Registrasi Cagar Budaya

 Sawahlunto merupakan salah satu kota di Indonesia yang selama ini giat dalam melestarikan berbagai peninggalan bersejarah yang ada. Sebagai sebuah kota warisan kolonial, Sawahlunto memiliki banyak peninggalan bersejarah yang dapat dikategorikan sebagai cagar budaya.[1]

Berbagai peninggalan bersejarah tersebut belumlah memiliki arti apabila belum diakui sebagai Cagar Budaya oleh  pemerintah kabupaten/kota. Apabila sudah diakui, maka barulah Cagar Budaya tersebut dapat dimasukkan ke dalam  Database Cagar Budaya yang terdapat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pengusahaan berbagai Cagar Budaya tersebut dilakukan dengan serius oleh Pemerintah Kota Sawahlunto. Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman merupakan ujung tombak dalam melakukan proses Registrasi Cagar Budaya di Kota Sawahlunto. Proses registrasi ini telah berjalan semenjak permulaan tahun 2014 ini dimana rencananya 30 bangunan yang diduga Cagar Budaya (CB) sedang dilakukan pendataan dan penelitian.

Sebelumnya pada tahun 2007 telah dikeluarkan Perda (Peraturan Daerah) yang mengatur pengelolaan BCB di Kota Sawahlunto.[2]

Tidak hanya bangunan saja yang dapat dikategorikan sebagai Cagar Budaya, bendapun dapat dikategorikan sebagai Cagar Budaya. Seperti benda-benda kuno yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan. Mungkin saja benda-benda tersebut terdapat disekitar kita, apakah itu di pekarangan rumah atau tersimpan rapat di dalam peti.

Juga harus mempunyai arti (nilai) khusus bagi penguatan kepribadian bangsa. Syarat yang tak kalah penting lainnya ialah bahwa benda, bangunan, situs, maupun kawasan tersebut haruslah berusia paling singkat 50 tahun.

Adapun semua orang dapat dan berhak untuk mendaftarkan benda-benda pusaka ataupun bangunan, atau dapat juga berupa situs maupun kawasan untuk dapat diakui sebagai Cagar Budaya oleh negara.

Mendaftarkan benda, bangunan, situs, maupun kawasan sebagai Cagar Budaya tidaklah sulit, apalagi untuk masyarakat Kota Sawahlunto. Masyarakat yang merasa memiliki benda, bangunan, situs, ataupun kawasan dapat langsung mendatangi Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman yang berada di Komplek Museum Goedang Ransoem Air Dingin Kec.Lembah Segar.

Sebagai dokumen pelengkap dalam pendaftaran disertakan juga hendaknya foto kopi KTP atau identitas lainnya. Kemudian kalau berupa benda, hendaknya langsung di bawa ke museum guna dilakukan penelitian oleh tim yang telah ditunjuk. Apabila berupa bangunan, situs, maupun kawasan maka hendaknya dibawa denah lokasi, foto, rekaman suara, video, ataupun dokumen pendukung lainnya. Selepas itu nantinya akan dikirim tim yang akan melakukan penelitian.

Pihak museum akan menyediakan formulir pendaftaran yang akan diisi oleh masyarakat. Selepas itu akan dilakukan proses penelitian terhadap objek yang diusulkan oleh pihak museum. Kemungkinan proses ini akan memakan waktu selama satu setengah bulan semenjak diusulkan.

Tentunya muncul pertanyaan; “Apa gerangan keuntungannya apabila satu benda peninggalan keluarga, bangunan tua milik kaum, ataupun situs maupun kawasan milik pribadi dapat dijadikan sebagai CB?

Terdapat beberapa keuntungan yang didapat apabila suatu benda, bangunan, situs, ataupun kawasan telah diakui sebagai CB oleh negara. Salah satunya ialah berupa insentif pengurangan terhadap Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta Pajak Penghasilan (PPh).[3]

Keuntungan lainnya ialah, apabila terjadi kerusakan maka akan mendapat bantuan dari pemerintah. Tentunya bantuan tersebut diberikan oleh pemerintah setelah mendapat rekomendasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) atau rekomendasi dari Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto.

Demikianlah perihal salah satu kegiatan yang saat ini tengah berjalan di Museum Goedang Ransoem. Kegiatan ini sesungguhnya mendatangkan banyak faedah kepada Kota Sawahlunto. Pengakuan dari nasional dan kemudian internasional atas kekayaan  Sawahlunto dari segi Peninggalan Bersejarah merupakan salah satu nilai plus yang dapat semakin memperkuat posisi Kota Sawahlunto di bidang Pelestarian.

 

Referensi:

UU NO. 11 Th.2010 Tentang Cagar Budaya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sumatera Barat. Th. 2013

Modul Registrasi Cagar Budaya Nasional. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebuyaan Tahun. 2014

 

 

 

[1] Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dam/ atau air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan memalui proses penetapan. (UUD No.11 Ttg Cagar Budaya Pasal.1 Ayat.1)

[2] Perda No.6 Th. 2007 Tentang Pengelolaan Benda Cagar Budaya.

[3] UUD No.11 Ttg Cagar Budaya Pasal.22 Ayat.2

Menyadari Potensi yang Ada

Identifikasi Dan Inventarisasi Sebagai Upaya Menghimpun Potensi Kebudayaan Masyarakat Nagari Dan Multikultur Sawahlunto

Oleh : Y/S-135

Hari ini, bila Anda ingin memperoleh informasi dan data yang representatatif untuk menggambarkan potensi sejarah dan kebudayaan Sawahlunto, dimana Anda bisa peroleh?

Jawabannya tentu akan beragam dengan masing-masing metode dan argumentasinya bagaimana dan dimana didapatkan. Dalam pikiran saya untuk sebuah efektifitas, kenapa tidak pada lembaga atau institusi yang mempunyai ruang lingkup dan tugas yang menangani persoalan-persoalan kebudayaan. Setidaknya disana terdapat informasi dasar atau bahkan data base kebudayaan Sawahlunto yang cukup bahkan lengkap.

Urusan kebudayaan memang adalah tanggungjawab semua elemen baik masyarakat, pemerintah, bahkan dunia swasta di Kota Sawahlunto. Kota ini sendiri, setidak-tidaknya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota Sawahlunto yang bersentuhan langsung dengan urusan kebudayaan – yang diantaranya; Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga dan Bagian Kesejahteraan Masyarakat di Setdako Sawahlunto – kesemua lembaga tersebut tentunya memiliki ruang lingkup tugas dan fungsi pokoknya masing-masing.

Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto yang kehadirannya relatif baru dalam tahun 2013 lalu, memiliki tugas dan fungsi pokok yang salah satu diantaranya; melakukan kegiatan penelitian dan pengkajian bidang sejarah  dan kebudayaan Sawahlunto. Sebagai langkah sistematis dan terstruktur tentu ada baiknya bila hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Kota Sawahlunto dapat teridentifikasi dan terinventarisasi baik berupa benda berwujud (Tangible) maupun benda tak berwujud (Intangible) seperti persoalan nilai-nilai dalam sebuah masyarakat. Baca lebih lanjut

Bangunan Cagar Budaya Sawahlunto

 

Oleh: Maiyozzi Chairi, S.Pd

Gardu Listrik disebut juga sebagai “Gudang Lampu” oleh masyarakat setempat. Pada zaman Belanda, gardu listrik ini digunakan sebagai tempat untuk menurunkan tegangan listrik dari 6 KV menjadi 220 Volt dan kemudian dialirkan menuju rumah pejabat tambang dan rumah penduduk sekitar.  (Doc Foto : KPBP)

Gardu Listrik
disebut juga sebagai “Gudang Lampu” oleh masyarakat setempat. Pada zaman Belanda, gardu listrik ini digunakan sebagai tempat untuk menurunkan tegangan listrik dari 6 KV menjadi 220 Volt dan kemudian dialirkan menuju rumah pejabat tambang dan rumah penduduk sekitar.
(Doc Foto : KPBP)

Bak Air yang berada di daerah Lubang Tembok ini merupakan suatu struktur Cagar Budaya yang dahulunya berfungsi sebagai bak penampungan air untuk mencuci batubara didaerah bantingan.  (Doc Foto : KPBP)

Bak Air yang berada di daerah Lubang Tembok ini merupakan suatu struktur Cagar Budaya yang dahulunya berfungsi sebagai bak penampungan air untuk mencuci batubara didaerah bantingan.
(Doc Foto : KPBP)

Pompa Air Rantih merupakan salah satu bangunan  yang dibangun pada zaman kolonial Belanda dan digunakan untuk mendukung sistem penambangan “Sand Filling” atau “Sistem Pasiran” dengan cara mengambil material pasir dari daerah Kayu Gadang menggunakan mesin semprot air bertekanan tinggi. Pada saat sekarang  pompa Rantih ini digunakan sebagai pompa air oleh PDAM untuk kebutuhan sebagian besar warga Sawahlunto. (Doc Foto : KPBP)

Pompa Air Rantih merupakan salah satu bangunan yang dibangun pada zaman kolonial Belanda dan digunakan untuk mendukung sistem penambangan “Sand Filling” atau “Sistem Pasiran” dengan cara mengambil material pasir dari daerah Kayu Gadang menggunakan mesin semprot air bertekanan tinggi. Pada saat sekarang pompa Rantih ini digunakan sebagai pompa air oleh PDAM untuk kebutuhan sebagian besar warga Sawahlunto.
(Doc Foto : KPBP)

Bangunan Kokes yang terletak di daerah kayu gadang  ini dibangun pada tahun 1970-an dan merupakan tempat  pengolahan batu bara menjadi bricket.  ( Doc Foto : KPBP)

Bangunan Kokes yang terletak di daerah kayu gadang ini dibangun pada tahun 1970-an dan merupakan tempat pengolahan batu bara menjadi bricket.
( Doc Foto : KPBP)

 

 

Heritage Race

Pembukaan Lomba oleh Bapak Evrinaldi, S.Si Kepala Kantor Peninggalan Bersejarah & Permuseuman

Pembukaan Lomba oleh Bapak Evrinaldi, S.Si Kepala Kantor Peninggalan Bersejarah & Permuseuman

Kalau kita ambil terjemahan harfiahnya maka akan berarti Balapan Budaya. Namun yang kami maksudkan dengan Heritage Race ialah semacam perlombaan dimana pengetahuan anak-anak perihal sejarah dan budaya negeri (dalam hal ini Kota Sawahlunto) dididik, diasah, dan diuji.

Perlombaan ini sama dengan lomba tahun sebelumnya yakni “Historical Game”. Dimana hanya peserta dan namanya saja yang berbeda. Kalau pada lomba Historical Game tahun yang lalu para pesertanya berasal dari siswa-siswi SLTA se Kota Sawahlunto maka untuk Heritage Race tahun ini pesertanya berasal dari siswa-siswi SLTP se Kota Sawahlunto.

Aturan dan teknis acara permainan ini masih sama dengan tahun sebelumnya. Bedanya ialah pada tahun sekarang setiap peserta (kelompok) diwajibkan untuk membuat satu buah karya tulis. Pembuatan karya tulis ini bertujuan untuk memancing dan melatih minat menulis dari anak-anak sekolah di Kota Sawahlunto. Sudah menjadi pengetahuan bagi kita semua bahwa anak-anak bangsa pada saat ini sangat lemah dalam kepenulisan. Baca lebih lanjut

Lomba Roket Angin

Salah satu kelompok sedang menunjukkan kebolehan Roket Angin buatan mereka. Foto: Dok. KPBP

Salah satu kelompok sedang menunjukkan kebolehan Roket Angin buatan mereka.
Foto: Dok. KPBP

Salah satu dari tiga rangkaian lomba yang diadakan oleh Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman ialah Lomba Roket Angin. Lomba yang bertemakan sains ini diikuti oleh para siswa-siswi SLTA se Kota Sawahlunto.  Sebelum diadakannya lomba, diadakan terlebih dahulu sebuah Workshop pada hari Kamis tanggal 24 April 2014. Workshop ini bertujuan untuk memberikan penjelasan perihal roket angin, cara kerja, serta pembuatannya.

Pada hari Rabu tanggal 30 April bertempat di Tanah Lapang atau Lapangan Ombilin, diadakanlah perlombaan antara sekolah. Roket angin dengan berbagai corak hasil kreasi siswa menjadi tontonan yang menarik. Dengan didampingi oleh para guru, para siswa ini mulai menunjukkan kebolehan dari roket angin buatan mereka.

Sesuai dengan namanya, roket ini menggunakan tenaga angin yang dipompakan ke dalam tabung yang terbuat dari paralon. Dimana kemudian angin dalam tabung inilah yang akan mendorong roket hingga melaju. Angin dipompakan ke dalam tabung dengan menggunakan pompa yang biasa digunakan untuk memompa sepeda.

IMG_9925Panas terik tidak mengurangai semangat dari peserta dan penitia dalam menjalani perlombaan ini. Sasaran yang terletak di tengah lapangan menjadi tujuan utama peluncuran roket oleh para siswa. Ketepatan sasaran tentulah bukanlah satu-satunya penilaian dari para dewan juri. Baca lebih lanjut

Lomba Permainan Anak Nagari

Permainan Cak Sen atau Galah yang dimainkan oleh anak perempuan Foto: Dok. KPBP

Permainan Cak Sen atau Galah yang dimainkan oleh anak perempuan
Foto: Dok. KPBP

Pada hari Selasa tanggal 29 April 2014, Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman menggelar Lomba Permainan Anak Nagari. Lomba ini merupakan tahapan pertama dari tiga rangkaian lomba yang akan digelar hingga hari Kamis tanggal 1 Mei 2014 mendatang.

Bertempat di Komplek Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto, serta dibuka oleh Bapak Sekretaris Daerah Kota Sawahlunto Zohirin Sayuti. Lomba ini diikuti oleh anak-anak dari Sekolah Dasar se Kota Sawahlunto.

Terdapat dua macam permainan yang dijadikan perlombaan, kedua permainan tersebut ialah permainan cak-sen[1] dan pacu tempurung. Untuk mendukung permainan ini telah dibuat lima buah lapangan permainan di Komplek Museum

Permainan Cak Sen atau Galah yang dimainkan oleh anak lelaki Foto: Dok. KPBP

Permainan Cak Sen atau Galah yang dimainkan oleh anak lelaki
Foto: Dok. KPBP

Goedang Ransoem. Empat lapangan diperuntukkan untuk Lomba Cak Sen, sedangkan satu lapangan diperuntukkan untuk perlombaan Pacu Tempurung. Setiap perlombaan dibedakan atas dua kelompok (tim) yakni Tim Lelaki dan Tim Perempuan.

Selain kedua macam perlombaan tersebut juga disediakan beberapa jenis permainan lainnya yang dapat dimainkan oleh anak-anak yang sedang tidak mengikuti perlombaan. Permainan tersebut seperti main congkak, lompat tali, engrang, dan beberapa permainan anak-anak lainnya.

Seperti dengan tahun sebelumnya dimana selalu terdapat acara door prize yang memeriahkan suasana. Maka demikian pula dengan acara kali ini, banyak hadiah door prize dibagikan oleh panitia.

Main congkak Foto: Dok. KPBP

Main congkak
Foto: Dok. KPBP

Acara perlombaan Permainan Rakyat ini memiliki tujuan untuk memperkenalkan kembali berbagai macam permainan yang pernah sangat akrab sekali bagi anak-anak Minangkabau pada masa dahulunya. Menjadi salah ajang bagi anak-anak untuk belajar berinteraksi sesama mereka. Melatih kepekaan sosial, serta mengasah sensitifitas mereka terhadap orang lain.

Hal yang berlainan berlaku pada masa sekarang, berbagai permainan game online ataupun berbagai permainan yang lebih banyak melibatkan anak-anak berinteraksi dengan mesin dibandingkan dengan manusia. Hal ini menyebabkan mereka canggung dalam berhadapan dengan orang lain, atau bahkan tidak tahu bagaimana cara bersikap semestinya ketika berhadapan dengan orang lain. Baca lebih lanjut

Roemah Komidi Sawahlunto

Oleh : Amitri Yulia

Gedung Pegadaian Kota Sawahlunto Dok.Foto: KPBP

Gedung Pegadaian Kota Sawahlunto
Dok.Foto: KPBP

Cagar Budaya merupakan warisan budaya yang bersifat kebendaan, yaitu berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.[1] Bangunan yang dapat dikatakan sebagai cagar budaya haruslah memiliki kriteria. Adapun kriteria dari bangunan tersebut telah berusia 50 tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.[2] Dengan adanya kriteria Cagar Budaya tersebut, maka salah satu bangunan lama yang sekarang dijadikan sebagai Kantor Pegadaian yang terdapat di Kota Sawahlunto, termasuk ke dalam Bangunan Cagar Budaya yang harus dilestarikan.

Bangunan Pegadaian ini dibangun oleh Sian Seng Wong A Lan pada tahun 1817 dengan nama “Roemah Komidi”.[3] Pada zaman Belanda, bangunan ini dijadikan sebagai tempat hiburan komedi. Tujuannya untuk menghibur para pekerja tambang batubara Ombilin.[4]

Pertunjukan komedi pada masa Kolonial Belanda dikenal dengan komedi stambul (berasal dari kata istanbul) yaitu suatu pertunjukan yang menggabungkan drama lama dan baru dari kebudayaan Cina, India, Melayu dan Eropa. Musik yang mengiringi pertunjukan ini menggunakan alat musik tradisional dan Eropa. Komedi ini dipertunjukkan dengan Bahasa Melayu. Cerita-cerita yang ditampilkan melalui komedi diambil dari kisah-kisah tradisional romantis “Pangeran Panji”, cerita Timur Tengah seperti “Ali Baba, Sinbad, Cerita Seribu Satu Malam”, cerita Eropa seperti “Pedagang dari Venesia” atau kisah kontemporer[5] mengenai para Nyai Batavia. Komedi istanbul pada saat itu sangat disukai oleh para pekerja, sementara kelompok cendikiawan modern cenderung merendahkan tontonan ini.[6] Baca lebih lanjut