Rumah Angin “Gedung Kompres” *

Gedung Kompres Waringin Kec. Berangin. Foto: Koleksi MGR

Gedung Kompres Waringin Kec. Berangin.
Foto: Koleksi MGR

Oleh: Rosita Cahyani, S.Sos

Gedung Kompres merupakan salah satu infrastruktur vital Tambang Batubara Ombilin-Sawahlunto.  Dibangun tahun 1920-an, Gedung Kompres berfungsi sebagai tempat mesin-mesin untuk memproduksi dan menyuplai udara ke lobang-lobang tambang bawah tanah. Oleh karenanya mesin kompres ini disebut juga sebagai mainfan atau blower. Selain sebagai suplai udara tambang, angin dari mainfan juga dimanfaatkan untuk mesin-mesin yang membutuhkan kekuatan angin sebagai penggeraknya, seperti; coalpit alat untuk menggali lobang tambang yang berbatu-batu.

 Mesin udara (kompres) itu buatan Jerman, beroperasi hingga tahun 1984[1]. Masuknya teknologi buatan Inggris pertengahan tahun 1980-an pada pertambangan Ombilin menunjukkan perkembangan dan kemajuan teknologi tambang dari waktu ke waktu, yang lebih praktis dan efisien menggantikan peran Gedung Kompres dan mesin-mesinnya.

Meski Gedung Kompres tidak lagi difungsikan, namun aset-asetnya hingga tahun 1990-an tetap dijaga dan dirawat. Hal itu tergambar dari penjelasan beberap informan dimana sampai tahun 1990-an masih ada petugas mekanik dan penjaga keamanan yang ditempat di Gedung Kompres. Hingga akhirnya dalam tahun 1990-an aset berupa mesin-mesin buatan Jerman itu, dilelang dan dibongkar oleh pengusaha Tionghoa dari Medan.[2] Sejak saat itu bangunan ini nyaris kosong dan terabaikan. Pada saat sekarang untuk mencapai bagian depan bangunan Gedung Kompres harus melewati dan memasuki pekarangan rumah penduduk. Arsitektur Gedung Kompres ini  dipengaruhi gaya arsitektur Hindia Belanda abad ke-19 De Indische Empir Stijl yang dipopulerkan Gubernur Jendral Herman Willian Daendels. Gaya arsitektur ini juga dikenal dengan The Empire Style suatu gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis, bukan Belanda) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda (Indonesia) yang bergaya kolonial, yang disesuaikan dengan lingkungan lokal dengan iklim dan tersedianya material pada waktu itu. Ciri-cirinya antara lain:

  1. Denah yang simetris
  2. Satu lantai
  3. Ditutup dengan atap perisai.

Ciri khas dari gaya arsitektur ini yaitu adanya barisan pilar atau kolom (bergaya Yunani) yang menjulang ke atas serta terdapat gevel atau mahkota di atas serambi depan dan belakang. Baca lebih lanjut

Roket Angin

Oleh: Nola Lestari

Merakit Landasan & Tabung Peluncur Roket Gambar: Koleksi MGR

Merakit Landasan & Tabung Peluncur Roket
Gambar: Koleksi MGR

IPTEK CENTER Kota Sawahlunto selalu  berusaha untuk mengembangkan dan memperkenalkan IPTEK Center, sehingga diharapkan dapat menarik minat para pelajar untuk mau mempelajari dan mendalami bidang ilmu sains serta mendorong para pelajar lebih keratif. Melalui penambahan alat peraga, IPTEK Center mencoba memperkenalkan sains melalui cara yang lebih menarik dan kreatif. Dimana selama ini mempelajari sains dalam pandangan anak-anak sekolah dianggap sebagai suatu pelajaran yang membosankan.

Selain itu IPTEK Center Kota Sawahlunto juga menampilkan percobaan Fisika dan Kimia, penampilan percobaan ini – biasa disebut dengan Demo Iptek Center – ialah dengan cara mengundang pelajar dari sekolah-sekolah yang ada di Kota Sawahlunto. Serta dengan melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah yang ada di dalam kota maupun luar Kota Sawahlunto.

Percobaan yang dilakukan saat kunjungan IPTEK Center Kota Sawahlunto ke sekolah-sekolah biasanya berupa demo sains tentang pemuaian, resonansi dan roket angin. Dimana diantara ketiga kegiatan demo sains diatas yang lebih menarik dan lebih diminati oleh pelajar adalah demo roket angin.

Bagi yang Ingin mengetahui sistem kerja roket angin, ini penjelasannya:

Pertama tama kita mempersiapkan landasan roket dan tabung peluncur setelah itu meletakkan roket di ujung tabung peluncur. Kemudian isi udara pada tabung peluncur dengan menggunakan pompa atau kompresor sampai batas tekanan udara yang telah ditentukan, lalu putar kran pada ujung tabung peluncur. Baca lebih lanjut

Peminat Songket

Bernhard bersama isteri dan staf museum

Bernhard bersama isteri dan staf museum

Pada hari Rabu tanggal 19 Februari 2014, Museum Goedang Ransoem kedatangan salah seorang peminat songket yang telah lama mencari dan mengkaji songket-songket lama di Minangkabau. Beliau ialah Bernhard Bart seorang arsitek berkewarganegaraan Swiss yang datang bersama isterinya Erika Dubler ke Sawahlunto.

Pada tahun 2006 Bernhard bersama beberapa orang budayawan dan ahli dalam hal songket di Minangkabau telah menlis sebuah buku bunga rampai dengan judul Revitalisasi Songket Lama Minangkabau.[1] Bukunya ini merupakan salah satu buku yang dicari oleh para peminat ataupun perajin songket di Minangkabau.

Bernhard telah tiba di Sawahlunto pada hari Selasa kemarin, bersama isteri beliau menginap di Hotel Ombilin yang terletak di pusat Kota Lama Sawahlunto. Tampaknya kehadirannya di Sawahlunto memang bertujuan untuk mencari, mempelajari, dan mendokumentasikan songket-songket lama yang ada di kota ini. Sebelum datang ke Museum Goedang Ransoem, Bernhard telah lebih dahulu mendatangi beberapa orang yang faham dan mengetahui perihal songket di kota ini. Tampaknya dari merekalah Bernhard mendapat saran agar mengunjungi Museum Goedang Ransoem. Selain tentunya telah melihat pameran songket yang menyajikan songket dari Silungkang di Museum Tekstil beberapa masa yang silam.

Kami menyambut baik kedatangan Bernhard dan sangat berharap akan dapat belajar banyak dari beliau berdua. Kami berbincang-bincang di ruangan kantor kami yang sederhana yang terletak di bangunan Pabrik Es atau sekarang bernama Perpustakaan.

Sambil berbincang-bincang, kami tunjukkan kepada beliau berdua beberapa koleksi songket kami. Dengan senang hati Bernhard melihat dan memberikan pendapatnya serta melayani beberapa pertanyaan dari kami. Baca lebih lanjut

Bukan Sekedar Berburu

(Sebuah Folklor dan Tradisi Bagi Kearifan Lokal Dari Nagari Tak Boncah Kota Sawahlunto)  

By: Y/S-135

Berburu ilustrasi-sumber-kudakhatulistiwa_files_wordpress-com-trace-with-corel-x5.jpg

Berburu
Ilustrasi Gambar: kudakhatulistiwa_files_wordpress-com-trace-with-corel-x5.jpg

Beburu[1] boleh jadi salah satu aktivitas tertua dimuka bumi yang dilakukan manusia dan terus ada hingga sekarang. Bagi masyarakat Nagari Tak Boncah di Kota Sawahlunto Sumatera Barat, aktivitas berburu rusa atau sarat dengan nilai-nilai lama (kearifan lokal) dalam hubungannya antara manusia dengan alam serta manusia dengan manusia.

Sebelum memasuki hutan dimana ativitas berburu akan dilakukan, terlebih dahulu sekelompok pemburu menuju sebuah goa (dalam bahasa setempat; ngalau) yang terdapat diatas perbukitan Nagari[2] Tak Boncah. Disana akan dilangsungkan ritual yang disebut mangalangsiang.

Semua peralatan berburu seperti; parang, anjian, pisau  dan rajuik (perangkap rajutan) dikumpulkan. Seorang Tuo Buru (tetua) mengasok-i (mengasapi) semua peralatan dan daerah perburuan dengan rokok kumayan putiah (Kemenyan Putih) sambil membacakan  do’a dan jampi-jampi mantra untuk keselamatan dan hasil yang berkah.

Wilayah perburuan kemudian ditetapkan, disebut dengan empat rajuik (rajut) dan dua anjing. Artinya setiap sudut telah dijaga dan dipasang rajut sebagai perangkap bagi buruan. Bila peralatan berburu hanya berupa peralatan seperti rajut, maka pemburu harus berupaya manyiriang atau mengarahkan binatang buruan ke perangkap dengan cara batuk-batuk.

Rusa atau kijang yang baru saja didapat tidak boleh langsung dipotong (disemblih) oleh anggota pemburu yang pertama kali mendapatinya baik dalam keadaan terperangkap atau dilumpuhkan oleh anjing. Semua anggota pemburu harus ditunggu hingga berkumpul. Bila rusa masih dalam keadaan hidup dan cukup segar, sambil menunggu pemburu yang lain berdatangan, hal yang mungkin dilakukan untuk mencegah supaya rusa atau kijang tidak bangkit dan lari adalah dengan memotong urat di kaki rusa atau kijang.

Setelah semua anggota berkumpul, hasil buruan segera disembelih. Sebagai wujud terima kasih kepada penghuni hutan sebagai tukang gubalo ruso (pengembala rusa/kijang).[3] Maka diberilah persembahan yang diambil dari bagian kulit si salo kuku dan telinga rusa/kijang lalu dibungkus dengan dedaunan.  Sambil berkata-kata, Seorang Tuo Buru atau salah satu anggota buru yang dapat memerankan prosesi persembahan ini akan membawa bungkusan persembahan untuk diselipkan diantara pepohonan kayu hutan.

Salah satu Pesona  kawasan persawahan di Nagari Tak Boncah Foto: Koleksi MKR

Salah satu Pesona kawasan persawahan di Nagari Tak Boncah
Foto: Koleksi MGR

Apa yang diucapakan seorang Tuo Buru saat meletakkan pesembahan itu, tidaklah boleh terdengar oleh anggota buru lainnya, akan tetapi untuk ucapan yang ketiga kalinya akan terdengar hanya kata  “Ooooooooooo…..” nya saja.

Adapun dengan pembagian hasil buruan didasarkan pada hal-hal berikut;

  1. Pemilik rajuik (rajut) yang memerangkap binatang memperoleh jatah pangga (paha kanan). Atau dalam hal ini bagi yang pertama kali mamatah maka akan mendapatkan pangga (paha kanan) seperti anjing, alat berburu seperti pistol atau Tuo Buru.
  2. Anjing yang pertama kali menyalak dan melihat binatang buruan mendapatkan kapalo kudan (tanduk)
  3. Sedangkan anjing yang kedua mendapatkan ikua kudan (ekor)
  4. Tuo buru mendapatkan ampulu (jantuang)

Setelah semua anggota buru memperoleh jatah sesuai perannya, kemudian sisanya dibagi sama banyak. Masih ada orang lainya yang menjadi bagian yaitu; Disaat buruan terperangkap dalam rajut atau telah dilumpuhkan, namun  anjing tetap terus menyalak, sehingga menarik perhatian  orang lain untuk datang ketempat itu. Orang yang datang sekedar manjanguak (melihat) tersebut juga mendapatkan pembagian daging rusa atau kijang.

Aktivitas berburu pada prinsipnya dapat saja dilakukan setiap hari di Nagari Tak Boncah Kota Sawahlunto. Namun demikian, mereka juga meyakini bahwa ada hari baik atau terbaik diantara hari-hari yang baik itu.

Karena itu pula mereka meyakini bahwa bila berburu dihari Senin dianggap rasaki maut atau rezeki langka. Apabila berburu pada hari ini memperoleh binatang buruan, maka pada hari Rabu kembali dilakukan berburu, yang disebut dengan manigo hari (hari ketiga). Bila di hari ketiga ini didapatkan juga hasil buruan, maka berburu dilanjutkan dengan manujuah hari  (berburu hari ke tujuh). Baca lebih lanjut

FUNGSI STEAM GENERATOR (TUNGKU PEMBAKARAN) DALAM PROSES MEMASAK DI DAPUR UMUM

Oleh: Amitri yulia, ss

 

Steam Generator Utama Foto: Koleksi MGR

Steam Generator Utama
Foto: Koleksi MGR

Dapur Umum atau sekarang bernama Museum Goedang Ransoem, merupakan kawasan yang memiliki banyak gedung dengan berbagai macam fungsi. Terdapat Dapur Masak, Steam Generator  Sebagai Sumber Energi, Gudang Padi, Gudang Ikan, Pabrik Es dan lain-lain.  Di antara kesemua bangunan tersebut, Dapur Umum[1] atau Gedung Utama dan  Steam Generatorlah yang memegang peranan penting bagi proses pembuatan makanan bagi para buruh tambang.

Steam Generator atau lebih dikenal dengan nama Tungku Pembakaran merupakan fasilitas utama dan fundamental bagi Roemah Ransoem.[2] Karena dengan ketiadaan alat ini maka sangat mustahil bagi Roemah Ransoem untuk memproduksi makanan bagi para kuli di pertambangan Ombilin.

Tungku ini terletak di bagian belakang bangunan utama yang dijadikan sebagai tempat memasak. Terdapat tiga buah tungku, dua buah tungku terletak di muka (depan) sedangkan satu tungku yang lain terletak di belakang tungku utama. Tungku kedua – yang lebih kecil ukurannya – terletak hampir berdekatan dengan bangunan Pabrik Es. Kedua tungku ini dihubungkan dengan saluran pipa bawah tanah ke cerobong asap yang memiliki tinggi 18 meter.

Cerobong asap ini berfungsi untuk membuang asap hasil proses pembakaran batubara. Saluran dari kedua tungku ini diparalelkan ke cerobong asap yang berada di belakang. Pada kawasan Dapur Umum terdapat dua buah cerobong asap, cerobong yang lain menempel di bangunan utama Roemah Ransoem.

Fungsi dari ketiga tungku ini berbeda-beda, dua buah tungku utama berfungsi sebagai tenaga untuk pembakaran sedangkan satu tungku yang terletak di belakang berguna sebagai tenaga cadangan apabila terjadi kerusakan atau salah satu tungku sedang dalam perawatan. Namun, tungku ini kadang-kadang juga dipergunakan secara bersamaan dengan tungku utama. Hal ini dilakukan karena proses memasak di Dapur Umum dibagi kepada 3 (tiga) shift.

Tungku ini bekerja dengan menggunakan bahan bakar utama batubara yang dibawa dengan Sizing Plant (papan berjalan) dan ditumpuk di dekat bangunan tungku pembakaran.[3]

Peralatan (mesin-mesin) tungku pembakaran ini dibuat di Jerman. Pada tungku tersebut masih terdapat tulisan tahun 1894, apakah ini tahun pembuatannya atau tahun pemasaran dari tungku tersebut. Kami belum mendapat keterangan pasti mengenai hal tersebut. Selama ini, dari informasi yang di dapat, tahun 1894 merupakan label tahun pabrik dari Steam Generator.

Fungsi Tungku Pembakaran ialah sebagai penghasil uap panas untuk proses memasak makanan di Dapur Umum. Tungku Pembakaran ini merupakan peralatan yang cukup modern di masa Kolonial Belanda.

Uap-uap yang dialirkan melalui pipa-pipa ini disalurkan menuju peralatan memasak seperti periuk besar atau ketel yang ada di dalam bangunan utama. Pipa-pipa ini menghubungkan bangunan utama yang menjadi tempat memasak dengan Tungku Pembakaran yang berada di belakang. Pipa ini ditanam di dalam tanah dari Tungku Pembakaran menuju bangunan utama. Sedangkan ruang bawah tanah yang berada di dalam gedung utama difungsikan sebagai tempat untuk mengontrol sistem kerja dari penyaluran uap panas ini selain sebagai penetralisir suhu bagi pipa. Baca lebih lanjut

Kawasan Silo

Oleh: Udlil Iman Zul, ST

Kawasan Silo sebelum pembangunan Food Court. Dilihat dari atas Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto. Foto: Koleksi Museum

Kawasan Silo sebelum pembangunan Food Court. Dilihat dari atas Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto.
Foto: Koleksi Museum

Akhir kejayaan tambang Batubara di Kota Sawahlunto meninggalkan banyak kenangan. Mulai dari tradisi budaya hingga bangunan fisik. Kedua aspek tersebut menjadi warisan yang tidak terlupakan bagi sejarah Kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang.

Tradisi budaya masyarakat Kota Sawahlunto masih bertahan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari bahasa,[1] atraksi budaya, hingga budaya multi-etnis. Berbeda dengan bangunan, banyak bangunan bekas fasilitas tambang yang tidak berfungsi (terbengkalai). Hal ini bukan disebabkan oleh kekurangan atau ketiadaan sumberdaya manusia, tapi diakibatkan oleh sebuah perjalanan. Dimana ada awal maka tentulah ada akhir. Terbengkalai mungkin salah satu akhir dari sebuah bangunan.

Sejak produksi Batubara  PT. BA-UPO mulai menipis, dan akhirnya dihentikan pada tahun 2003, saat itu pulalah berbagai bangunan fasilitas pertambangan batubara tidak difungsikan lagi. Kawasan strategis seperti Kawasan Sizing Plant dan Silo yang merupakan bagian dari proses pertambangan pun menjadi mati. Pengelolaan bangunannya pun menjadi mahal, karena banyak bangunan berukuran besar, dimana sebagian tidak bisa berubah fungsi, dan apabila dikelola dan dipelihara akan terjadi pembengkakan biaya pemeliharaan. Hal ini ditambah lagi dengan tidak adanya pemasukan dari produksi tambang PT BA-UPO.

Beberapa bangunan masih berdiri megah di kawasan Sizing Plan dan Silo, seperti Gedung Transport, Bengkel Utama, dan Silo itu sendiri. Menjadi saksi bisu dari kejayaan Tambang Batubara di Kota Sawahlunto. Sekarang, bangunan-bangunan yang tersisa berusaha bercerita perihal akhir perjalanan sebuah kota yang dahulu menggantungkan hidupnya pada  pertambangan.

Pemerintah Kota Sawahlunto telah menetapkan Visi dan Misi Kota Sawahlunto yakni; menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya. Oleh sebab itu, kawasan terbengkalai di tempat strategis merupakan nilai minus bagi sisi kepariwisataan. Apalagi semenjak tahun 2010, kawasan Silo menjadi tempat pembuangan material sisa pembangunan. Hal tersebut mengakibatkan turunnya kualitas lingkungan pada kawasan ini.

Pada Tahun 2012 mulailah muncul wacana untuk mengelola Kawasan Silo dan Sizing Plant. Dimana sebelumnya, gedung transport telah dimanfaatkan untuk perkantoran yang ditempati oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Badan Pemadam Kebakaran Kota Sawahlunto.

Perencanaan pengelolaan menghasilkan fungsi kawasan baru, yaitu sebagai salah satu taman kota. Dimana nantinya kawasan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pusat kegiatan budaya dan aktifitas masyarakat, dan yang paling penting adalah sebagai ruang terbuka hijau (RTH) Kota Sawahlunto. Realisasi perencanaan tersebut direspon Pemerintah Kota dengan membangun foodcourt, plaza dan panggung pertunjukan.

Foodcourt di Kawasan Silo dan Sizing Plant dibangun menggunakan struktur teknologi modern, yakni menggunakan prinsip struktur-membran.[2] Foodcourt sendiri berada ditengah area Kawasan Silo dan Sizing Plant. Walaupun berada di tengah kawasan, Foodcourt tidak begitu dominan diantara bangunan sekelilingnya. Karena prinsip dasar dikembangkannya Kawasan Silo dan Sizing Plant ialah tidak mengesampingkan bangunan yang telah ada (bangunan cagar budaya). Keberadaan Foodcourt justru membawa pengunjung pada pemandangan pada Bangunan Silo yang terdiri atas tiga tabung raksasa, pada sisi bagian belakang dan kemegahan Sizing Plant pada sisi lainnya. Area Food Court memiliki luas± 650 m­2 dan telah dilengkapi dengan fasilitas kantin serta kios sebanyak 15 unit.

Plaza berada di sisi kanan foodcourt. Plaza dibuat menggunakan gabungan pasangan paving blok, dan kemudian diwarnai dengan cat bermotifkan warna papan catur. Warna papan catur menegaskan kesan kaku namun bersifat atraktif sehingga tidak terlihat monoton. Hal ini sangat berbeda dengan pasangan paving blok pada plaza.

Pada sisi luar dan keliling plaza, menggunakan pasangan grass block. Grass blok adalah sejenis paving blok yang memiliki lubang-lubang beraturan dan nantinya digunakan sebagai kisi-kisi tanaman rumput. Penggunaan Grass blok bertujuan agar pasangan paving terlihat tidak terlalu masif, sehingga pesan ruang terbuka hijau (RTH) kota masih terakomodir. Baca lebih lanjut