Nisan Orang Rantai


Koleksi Unik dari Museum Goedang Ransoem

Oleh: Imelia Wulandari, SS

Koleksi adalah roh dari sebuah museum. Pengadaan koleksi dari sebuah museum mempunya dua tujuam pokok, yaitu:

  1. Penyelamatan sejarah warisan alam dan budaya.
  2. Sebagai bahan penyebarluasan informasi mengenai mengenai kekayaan warisan Sejarah Alam dan Sejarah Budaya dengan melalui

Begitulah arti penting koleksi bagi sebuah museum. Begitu juga dengan Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto yang memiliki total jumlah koleksi sebanyak 487 koleksi berdasarkan registrasi tahun 2010.  Meski demikian penambahan koleksi Museum Goedang Ransoem terus dilakukan. Seperti penambahan koleksi yang saat ini dilakukan oleh Museum Goedang Ransoem. Salah satu koleksi yang cukup unik adalah penambahan koleksi Nisan Orang Rantai.

Misan Orang Rantai adalah batu nisan dari kuburan orang rantai yang dipekerjakan sebegai buruh tambang di pertambangan batubara di Kota Sawahlunto pada masa Pemerintahan Kolonial. Orang Rantai merupakan narapidana yang dijatuhi hukuman pidana kurungan yang masa kurungannya lebih dari lima tahun. Diantara mereka terdapat narapidana politik, pelaku tindak kriminal, dan lainnya. Orang rantai atau orang hukuman ini biasanya dipekerjakan  oleh Pemerintah Hindia Belanda pada proyek-proyek besar pemerintah, seperti proyek pembangunan jalan di Sumatera Timur, proyek tambang batubara di Sawahlunto Sumatera Barat (Sumatera Westkust), bahkan ada yang dijadikan sebagai pengangkut amunisi dan perbekalan masa Perang Aceh.

Untuk Kota Sawahlunto saat itu, orang rantai ini dipekerjakan di “tambang dalam”. Pemerintah Kolonial Belanda meraup banyak keuntungan dari batubara yang dikumpulkan oleh orang rantai ini. Namun tidak sedikit orang rantai yang meregang nyawa sebelum masa hukuman habis. Mereka ada yang meninggal karena sakit ataupun karena perkelahian yang terjadi antara orang hukuman itu sendiri.

Pemerintah Kolonial Belanda kemudian menguburkan orang rantai yang meninggal ini di daerah Air Dingin yang sekarang merupakan bagian dari Kec.Lembah Segar. Kuburan mereka ditandai dengan nisan yang diberi nomor registrasi. Namun seiiring dengan kebutuhan lahan yang semakin meningkat maka area pekuburan orang rantai saat ini tidak terawat.

Nisan orang rantai sebagai salah satu bukti peninggalan sejarah di Kota Sawahlunto sudah banyak yang hilang. Untuk itu Museum Goedang Ransoem berikhtiar untuk menyelamatkan kembali nisan-nisan yang hilang tersebut. Pada saat ini museum telah menyelamatkan nisan orang rantai sebanyak 143 nisan dengan beragam nomor identitas.

Namun demikian penambahan koleksi Museum Goedang Ransoem akan terus dilakukan, tidak hanya koleksi batu nisan, akan tetapi juga koleksi lainnya yang berhubungan dengan dapur umum, demi untuk penyelamatan sejarah warisan budaya dan sebagai bahan informasi kekayaan warisan sejarah Kota Sawahlunto.

*Dimuat pada Buletin Museum Goedang Ranseom (Sawahlunto Museum News) edisi 2 (Juni 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s