Songket Silungkang

SONGKET MINANGKABAU

Oleh : Amitri Yulia, SS

 

Salah satu motif Songket Khas Minangkabau yang dibuat oleh penduduk Nagari Silungkang Kota Sawahlunto.

Sejak dahulu kala hingga kini, songket adalah pilihan populer untuk busana adat perkawinan Bangsa Melayu (Palembang, Minangkabau, & Aceh) dan Bali. Kain ini sering diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin wanita sebagai salah satu hantaran persembahan perkawinan. Di masa kini, busana resmi laki-laki Melayu pun kerap mengenakan songket sebagai kain yang dililitkan di atas celana panjang atau menjadi destar, tanjak, atau ikat kepala. Sedangkan untuk kaum perempuannya songket dililitkan sebagai kain sarung yang dipadu-padankan dengan kebaya atau baju kurung. Sebagai benda seni, songket pun sering dibingkai dan dijadikan penghias ruangan.

Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang berarti “mengait” atau “mencungkil”. Hal ini berkaitan dengan metode pembuatannya, mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas.

Sehubungan dengan benang emas ini ada pendapat yang mengatakan bahwa benang emas merupakan benang import yang didatangkan dari Cina, yaitu dari kota Kanton bersamaan dengan datangnya benang sutera.  Benang emas dahulu kala yang dibawa oleh pedagang-pedagang Cina dari Kanton disebut dengan Macao. Istilah macao sampai sekarang masih dipakai untuk menyebut benang emas (benang makau).  Sebutan tersebut pada mulanya dihubungkan dengan kata dari mana benang tersebut dahulunya berasal.  Pada tahun 1557 Cina menjadikan Macao sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan di laut Cina Selatan. Diperkirakan  kedatangan benang emas dari Kanton terjadi hampir bersamaan dengan kedatangan emas dari negeri Siam.

Ditinjau dari bahan yang dipakai untuk tenunan songket adalah benang kapas, benang sutera dan sekarang berkembang dengan benang sintetis sebagai benang lungsi, untuk hiasan dipakai benang emas atau perak. Benang emas dan perak merupakan bahan utama untuk membuat tenunan songket. Pada mulanya dipergunakan benang emas atau perak yang dibuat dari emas murni atau perak murni, sekarang tidak ada lagi yang memakai emas murni, karena harga emas dan perak sangat mahal.

Songket Minang  berakar dari kebudayaan Minangkabau, yang pada awalnya dibuat untuk keperluan sehari-hari. Dengan masuknya benang sutra dan benang emas melalui pedagang-pedagang Cina India dan Arab, benang  sutra dan benang emas mulai dipakai sebagai bahan tenun sehingga kualitas tenunan  songket menjadi berkembang.

Salah satu penenun songket lokal di Minangkabau yang terkenal adalah Nagari Silungkang. Nagari Silungkang terletak di tepi jalan raya Lintas Sumatera sekitar 95 km dari selatan-timur Kota Padang. Desa ini juga terkenal dengan seni seperti kerajinan sapu dan menenun. Selain itu Silungkang juga terkenal dengan kerupuk ubi, kerupuk kulit serta kopi Silungkangnya. Songket dan sarung tangan tenunan Silungkang sudah terkenal di Sumatera Barat. Songket Silungkang juga dibuat secara tradisional, dengan menggunakan alat tenun yang disebut dengan Palanta. Songket ini biasanya di tenun oleh kaum perempuan yang bertempat di rumah mereka masing-masing. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan zaman, kaum laki-laki juga sudah mulai menjadi penenun songket.

Seorang gadis Minangkabau asal Nagari Silungkang sedang menenun.

Proses penenunan songket membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus memindai benang sehelai demi sehelai. Tetapi disitulah letak keunikkan dari songket, motif yang dihasilkan juga sangat beragam dan antik sehingga akan menambah keindahan setiap pemakainya.

Dilihat dari tenunan songket Minangkabau  dengan latar belakang agama Islam yang kuat, desain songket yang dihasilkan banyak dipengaruhi oleh seni budaya Islam.  Seni budaya Islam cenderung bermotif geometris, kaligrafi, dan bentuk tumbuh-tumbuhan. Sedangkan bagi masyarakat yang masih menganut animisme atau agama selain Islam, seperti pada masyarakat kawasan Indonesia Timur, motif manusia dan hewan menjadi desain utama yang di sakralkan dan  menjadi simbol adat yang dimasukan sebagi motif dalam tenunan songket mereka.

                Dengan demikian  pengaruh seni Islam sangat menonjol  pada motif songket, yang pada umumnya bermotif reka geometris, salur-salur dan bentuk tumbuh-tumbuhan.  Adakalanya desain yang dihasilkan memakai nama-nama makhluk hidup atau hewan, tetapi itu hanya dalam bentuk image yang nyatanya hanya berbentuk lengkung-lengkung, garis-garis patah dan ber macam-macam garis.

        Susun ragam hias songket dibagi sesuai dengan penempatan, yaitu pada kepala kain, kaki kain (bagian bawah kain) dan badan kain. Pada kepala kain biasanya dipakai  motif pucuk rebung dan pada kaki  kain dipakai motif pucuk rebung atau motif pinggir lainnya, pada badannya diisi dengan motif bunga tabur atau motif beraturan.

Motif songket terdiri dari bentuk-bentuk geometri dan bentuk alam. Dari hasil teknik menenun, motif yang dilahirkan berbentuk geometri. Motif yang berasal dari alam berupa  tumbuh-tumbuhan dan binatang serta bentuk benda alam lainnya. Bentuk tumbuh-tumbuhan meliputi bentuk bunga, daun, buah dan tampuk serta salur-saluran.

Motif Songket Minangkabau merupakan lambang yang mengandung nilai-nilai falsafah Minangkabau, yang berasaskan pada “Alam takambang jadi guru”. Berbagai nilai kehidupan yang merupakan amalan masyarakat tradisi Minangkabau dipaparkan dalam motifnya.

Motif tenunan maupun motif ukiran pada umumnya memiliki nama yang sama, namun ada beberapa motif yang sama tetapi nama yang berlainan, hal ini hanyalah merupakan kebiasaan pada suatu Nagari atau Luhak dan penamaan yang seperti ini tidak banyak jumlahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SONGKET MINANGKABAU

Oleh : Amitri Yulia, SS

 

Sejak dahulu kala hingga kini, songket adalah pilihan populer untuk busana adat perkawinan Bangsa Melayu (Palembang, Minangkabau, & Aceh) dan Bali. Kain ini sering diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin wanita sebagai salah satu hantaran persembahan perkawinan. Di masa kini, busana resmi laki-laki Melayu pun kerap mengenakan songket sebagai kain yang dililitkan di atas celana panjang atau menjadi destar, tanjak, atau ikat kepala. Sedangkan untuk kaum perempuannya songket dililitkan sebagai kain sarung yang dipadu-padankan dengan kebaya atau baju kurung. Sebagai benda seni, songket pun sering dibingkai dan dijadikan penghias ruangan.

 

 

Gambar:

Salah satu motif Songket Khas Minangkabau yang dibuat oleh penduduk Nagari Silungkang Kota Sawahlunto.

 

Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang berarti “mengait” atau “mencungkil”. Hal ini berkaitan dengan metode pembuatannya, mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas.

Sehubungan dengan benang emas ini ada pendapat yang mengatakan bahwa benang emas merupakan benang import yang didatangkan dari Cina, yaitu dari kota Kanton bersamaan dengan datangnya benang sutera.  Benang emas dahulu kala yang dibawa oleh pedagang-pedagang Cina dari Kanton disebut dengan Macao. Istilah macao sampai sekarang masih dipakai untuk menyebut benang emas (benang makau).  Sebutan tersebut pada mulanya dihubungkan dengan kata dari mana benang tersebut dahulunya berasal.  Pada tahun 1557 Cina menjadikan Macao sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan di laut Cina Selatan. Diperkirakan  kedatangan benang emas dari Kanton terjadi hampir bersamaan dengan kedatangan emas dari negeri Siam.

Ditinjau dari bahan yang dipakai untuk tenunan songket adalah benang kapas, benang sutera dan sekarang berkembang dengan benang sintetis sebagai benang lungsi, untuk hiasan dipakai benang emas atau perak. Benang emas dan perak merupakan bahan utama untuk membuat tenunan songket. Pada mulanya dipergunakan benang emas atau perak yang dibuat dari emas murni atau perak murni, sekarang tidak ada lagi yang memakai emas murni, karena harga emas dan perak sangat mahal.

Songket Minang  berakar dari kebudayaan Minangkabau, yang pada awalnya dibuat untuk keperluan sehari-hari. Dengan masuknya benang sutra dan benang emas melalui pedagang-pedagang Cina India dan Arab, benang  sutra dan benang emas mulai dipakai sebagai bahan tenun sehingga kualitas tenunan  songket menjadi berkembang.

Salah satu penenun songket lokal di Minangkabau yang terkenal adalah Nagari Silungkang. Nagari Silungkang terletak di tepi jalan raya Lintas Sumatera sekitar 95 km dari selatan-timur Kota Padang. Desa ini juga terkenal dengan seni seperti kerajinan sapu dan menenun. Selain itu Silungkang juga terkenal dengan kerupuk ubi, kerupuk kulit serta kopi Silungkangnya. Songket dan sarung tangan tenunan Silungkang sudah terkenal di Sumatera Barat. Songket Silungkang juga dibuat secara tradisional, dengan menggunakan alat tenun yang disebut dengan Palanta. Songket ini biasanya di tenun oleh kaum perempuan yang bertempat di rumah mereka masing-masing. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan zaman, kaum laki-laki juga sudah mulai menjadi penenun songket.

Proses penenunan songket membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus memindai benang sehelai demi sehelai. Tetapi disitulah letak keunikkan dari songket, motif yang dihasilkan juga sangat beragam dan antik sehingga akan menambah keindahan setiap pemakainya.

Dilihat dari tenunan songket Minangkabau  dengan latar belakang agama Islam yang kuat, desain songket yang dihasilkan banyak dipengaruhi oleh seni budaya Islam.  Seni budaya Islam cenderung bermotif geometris, kaligrafi, dan bentuk tumbuh-tumbuhan. Sedangkan bagi masyarakat yang masih menganut animisme atau agama selain Islam, seperti pada masyarakat kawasan Indonesia Timur, motif manusia dan hewan menjadi desain utama yang di sakralkan dan  menjadi simbol adat yang dimasukan sebagi motif dalam tenunan songket mereka.

                Dengan demikian  pengaruh seni Islam sangat menonjol  pada motif songket, yang pada umumnya bermotif reka geometris, salur-salur dan bentuk tumbuh-tumbuhan.  Adakalanya desain yang dihasilkan memakai nama-nama makhluk hidup atau hewan, tetapi itu hanya dalam bentuk image yang nyatanya hanya berbentuk lengkung-lengkung, garis-garis patah dan ber macam-macam garis.

 

 

Gambar:

Seorang gadis Minangkabau asal Nagari Silungkang sedang menenun.

 

Susun ragam hias songket dibagi sesuai dengan penempatan, yaitu pada kepala kain, kaki kain (bagian bawah kain) dan badan kain. Pada kepala kain biasanya dipakai  motif pucuk rebung dan pada kaki  kain dipakai motif pucuk rebung atau motif pinggir lainnya, pada badannya diisi dengan motif bunga tabur atau motif beraturan.

Motif songket terdiri dari bentuk-bentuk geometri dan bentuk alam. Dari hasil teknik menenun, motif yang dilahirkan berbentuk geometri. Motif yang berasal dari alam berupa  tumbuh-tumbuhan dan binatang serta bentuk benda alam lainnya. Bentuk tumbuh-tumbuhan meliputi bentuk bunga, daun, buah dan tampuk serta salur-saluran.

Motif Songket Minangkabau merupakan lambang yang mengandung nilai-nilai falsafah Minangkabau, yang berasaskan pada “Alam takambang jadi guru”. Berbagai nilai kehidupan yang merupakan amalan masyarakat tradisi Minangkabau dipaparkan dalam motifnya.

Motif tenunan maupun motif ukiran pada umumnya memiliki nama yang sama, namun ada beberapa motif yang sama tetapi nama yang berlainan, hal ini hanyalah merupakan kebiasaan pada suatu Nagari atau Luhak dan penamaan yang seperti ini tidak banyak jumlahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s