Sawahlunto: Kota Wisata Sejarah

MY CITY MY HOME

Oleh : Medi Iswandi[1]

Silo

Silo

Beberapa tahun yang silam saya pernah membaca sebuah novel yang mengisahkan sebuah kota mati nan jauh di Benua Amerika sana. Kota mati seperti diceritakan pada film-film koboi, lengkap dengan bekas tambang-tambang batubaranya yang menjadi aset wisata. Bahkan katanya para pelancong juga dapat kesempatan masuk ke tambang-tambang tersebut dan melihat sendiri keadaan di dalam.

Siapa yang menyangka, bertahun-tahun kemudian saya hidup dan mungkin menghabiskan hari tua disini. Di sebuah kota yang mirip dengan novel yang saya baca. Tetapi bukan sebuah kota mati, namun kota yang masih hidup, indah dan bahkan kaya akan budaya.

Lokasinya bukan di Amerika sana, tempatnya ialah di Indonesia, tepatnya salah satu kota yang terdapat di Sumatera Barat. Kota ini dikenal sebagai pusat produksi batubara dengan kualitas terbaik. Dizaman kolonial Belanda, kota ini pernah menjadi sumber penggerak pilar ekonomi di Sumatera Barat. Nama kota itu ialah Sawahlunto.

Sepuluh tahun yang lalu, saya datang ke kota ini. Dengan benumpang sebuah bus jurusan Sawahlunto saya berangkat dari kota asal saya. Alangkah takjubnya tatkala mulai memasuki kota kecil ini tersajilah sebuah pemandangan elok yang takkan pernah saya lupakan hingga kini. Bagaikan sebuah layar bioskop, jendela depan bus yang saya tumpangi menyajikan sebuah pemandangan bagaikan pemandangan pada sebuah filem pertualangan. Mencari sebuah kota di tengah daerah perbukitan yang misterius. Makin ku tercengang, karena setelah sekian jam, sejauh mata memandang hanya ada bukit, bukit yang hijau. Dari “layar” di hadapan, tiba-tiba mencuat beberapa tabung-tabung raksasa, serupa dengan menara silo-silo reaktor nuklir. Rupanya menara yang juga biasa disebut silo oleh penduduk setempat merupakan bagian dari bekas pabrik pemrosesan batubara yang hingga kini masih terpelihara.

Ada yang menyebut kota ini Hongkong di waktu malam, karena kerlap-kerlip lampu malam hari di rumah penduduk dari perbukitan yang mengelilingi kota ini. Ada yang menyebutnya kota tambang ala Amerika, tapi kami disini menyebutnya kota kuali[2]. Pantas saja, ternyata letak kota ini dikelilingi oleh perbukitan.

Mak Itam

“Petualangan hidup baru dimulai” pikir ku. “Alamak, dah macam Indiana Jones pula aku, kan menghabiskan hidup disini!”

Di tengah kota terdapat sebuah lubang tambang tua. Takkan ada yang menyangka bahwa di bawah kota ini terdapat sebuah lubang tambang batubara kuno. Konon seratus tiga puluh tahun lalu tambang kuno itu diurus oleh Belanda. Di tahun 1920-an lubang tersebut ditutup karena derasnya air yang masuk ke dalam lubang. Hal ini wajar karena lubang tambang ini berada tidak jauh dari sungai. Sungai yang namanya diabadikan menjadi nama kota ini yakni Sungai Lunto atau biasa disebut dengan Batang Lunto oleh penduduk setempat. Pada saat sekarang ini bekas lubang tambang tersebut telah di eksvakasi oleh Pemerintah Kota dan menjadi objek wisata yang sangat menarik dengan nama “Loebang Tambang Mbah Soero.”

Tidak jauh dari Loebang Mbah Soero (kira-kira 250 m) terdapat Komplek Museum Goedang Ransoem. Pada masa dahulu komplek museum ini merupakan dapur umum yang berfungsi menyediakan makanan bagi ribuan pekerja tambang. Para pekerja tambang ini lebih dikenal dengan sebutan “orang rantai” karena mereka memang didatangkan dari berbagai kawasan di Indonesia dengan kaki terikat rantai. Hal ini karena mereka (orang rantai) merupakan tahanan atau narapidana. Rantai yang dipasangkan di badan mereka berguna supaya mereka tidak melarikan diri ketika bekerja. Di museum ini masih tersimpan kuali-kuali raksasa tempat memasak untuk ribuan buruh tambang. Kehidupan manusia rantai masih dapat kita lihat melalui tayangan vidio yang tersedia bagi para pengunjung di museum ini.

Museum Goedang Ranseom

Dalam hati saya berpikir, kota mati tempat wisata tambang di Kentucky dan Virginia Amerika sana tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan  Sawahlunto. Kota ini masih hidup dengan masyarakat, budaya dan jangan lupakan makanannya yang khas. Misalnya, saya tidak akan pernah melupakan nikmatnya dendeng batokok yang dibaluri minyak kelapa buatan sendiri. Membayangkannya saja sudah  menetes air liur ini rasanya. Kota ini terus berbenah untuk melayani wisatawan yang jumlah kunjungannya meningkat setiap tahunnya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah melebihi 50 ribu namun saat ini sudah mendekati angka kunjungan 600 ribu.

Bagi saya, seluruh kota ini adalah aset wisata yang menyatu. Menelusuri seluk beluk Kota Sawahlunto ibarat memasuki lorong waktu dengan gedung-gedung peninggalan zaman Belanda. Diantaranya ialah gedung Kantor PT. B.A[3]  yang telah digunakan semenjak zaman Kolonial Belanda. Hingga saat ini gedung tersebut masih berfungsi sebagai kantor bagi perusahaan tambang tersebut.

Kemudian bangunan Hotel Ombilin yang yang masih memiliki fungsi sama yakni sebagai penginapan, adapula Wisma W1 yang merupakan bekas rumah dokter Kolonial Belanda uamh saat ini telah beralih fungsi menjadi sebuah hotel. Kemudian Gedung Societeit yang  dizaman kolonial merupakan tempat para meneer dan none Belanda berpesta dansa.

Infobox, Lubang Tambang Mbah Soero, & Galeri Foto Tambang Batubara

Di dekat kantor Dinas Pariwisata sekarang terdapat tiga buah silo, yang merupakan salah satu bekas peninggalan kejayaan Pertambangan Ombilin. Bentuknya serupa menara yang tinggi menjulang, berdiri kokoh bagaikan tiga sahabat karib yang tak dapat dipisahkan.

Demikian juga dengan stasiun kereta api dengan mak itam nya (lokomomotif uap tua) yang pada masa dahulu digunakan untuk mengangkut batubara ke Pelabuhan Teluk Bayur. Pada saat sekarang mak itam dapat digunakan untuk menikmati perjalanan melewati terowongan tua yang lebih dikenal dengan nama lubang kalam. Panjang lubang kalam ini sekitar 1000 meter, kemudian di ujung perjalanan anda dapat menyaksikan sebuah pabrik kopi tua. Dimana dalam proses pembuatan kopi, sama sekali tidak menggunakan tenaga listrik tetapi energi yang semuanya digerakan oleh air. Sebuah aset wisata heritage yang saat ini terus dibangkitkan potensinya.

Jika anda mengikuti sebuah paket wisata lengkap di kota ini, maka petualangan anda akan dimulai semenjak memasuki kota ini dari arah selatan, anda akan menikmati waterboom yang terintegrasi dengan alam serta slidingnya yang sangat menantang, berikut atraksi “baruak dan cigak” yang akan anda saksikan saat anda mandi. Kemudian ketika memasuki pusat kota, anda seperti menelusuri lorong waktu, kembali ke masa lampau terdampar di sebuah kota tambang tua. Bahkan jika anda beruntung datang diwaktu yang tepat, maka anda akan manyaksikan pesta rakyat berbagai suku dan etnis yang ada di Sawahlunto. Pertunjukkan pesta dansa-dansi seperti para noni dan meneer Belanda yang dilaksanakan disebuah gedung tua, merasakan petualangan manusia rantai, naik kereta tambang menelusuri terowongan tua, dan jika rencana besar Pemerintah Kota terlaksana maka pada malam harinya anda akan menyaksikan keindahan kota kuali ini dari atas kereta gantung. “your town give new experience in my life”. kata kawan bule yang pernah berkunjung ke sini.

Stasiun Kereta Api Sawahlunto di Kampuang Teleang

Sawahlunto yang kata orang sudah mulai mati karena aset batubaranya yang tinggal sekitar seratus juta ton dengan masa eksploitasi hanya beberapa puluh tahun lagi. Namun kota ini akan bangkit karena kami masih punya aset lain, yaitu kota itu sendiri dengan keunikan budaya masyarakatnya (minang, jawa, sunda, cina, dan batak) serta peninggalan sejarahnya yang masih terpelihara. Dan buat saya pribadi, semoga jangan keburu tersentuh modernisasi yang berlebihan, karena justru disitulah letak eksotis kota ini.

Jika kita ke arah utara di mana terletak sebuah kawasan yang dulunya adalah bekas tambang dimana terdapat danau-danau bekas galian yang disulap pemerintah daerah menjadi sebuah tempat wisata yang indah. Tempat ini dilengkapi dengan sebuah kebun binatang dan breading farm. Tak ketinggalan sebuah tempat pacuan kuda yang terletak di puncak bukit. Ya..! di mana lagi di dunia ini ada tempat pacuan kuda berstandar internasional yang terletak di atas puncak bukit dengan view nomor wahid. Belum lagi objek rekreasi “Dream Land” yang saat ini tengah dibangun di atas lahan bekas tambang tersebut. Dan bagi yang ingin memacu adrenalinnya, di sini juga tersedia sirkuit road race, sirkuit motocross yang berstandar nasional serta arena paintball dan outboundnya yang menantang.

Jika kawan-kawan ada waktu mainlah ke Sawahlunto. Yang jelas betapa kota tambang mati di Amerika yang pernah ku baca dalam novel itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Sawahlunto. Kota ini masih hidup, terus berbenah dan luar biasa eksotis dan indahnya.

fotografer: Ronald Mulya Devi


[1] Merupakan Kepala Dinas Pariwisata &Kebudayaan Kota Sawahlunto.

[2] Wajan menurut bahasa orang Jakarta.

[3] PT. B.A merupakan akronim dari PT. Bukit Asam yang berpusat di Sumsel. Semenjak menurunnya produksi batubara di Sawahlunto. PT.Pertambangan Ombilin menjadi salah stu unit pertambangan dari PT.BA. Maka berubahlah nama menjadi PT.BA Unit Pertambangan Ombilin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s