Ctt HUT Kota 2011

Keunikan Budaya Suku Zapotecs

Meksiko

Martha Toledo merupakan salah seorang musisi yang ikut memeriahkan Simfest 2011 yang diadakan di Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto. Perempuan asal Meksiko ini, selain pandai mengolah suara rupanya juga menggemari dunia fotografi. Pada petang hari Minggu tanggal 4 Desember yang merupakan hari ketiga pelaksanaan Simfest 2011, perempuan yang biasa disapa Martha ini memamerkan beberapa koleksi foto yang dimilikinya. Tema yang diangkat ialah mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat Mexico. Foto-foto yang dipamerkan merupakan beberapa dari koleksi yang berhasil dikumpulkannya dalam masa 10 tahun.

Kiri: Amran Nur, Hitrud.C, Martha Toledo, Remi Decker

Pameran foto ini diadakan pada salah satu ruangan di Museum Goedang Ransoem. Acara ini juga dihadiri oleh Walikota Sawahlunto Bapak Amran Nur, Kepala Dinas Pariwisata Bapak Medi Iswandi, dan Plt. Kabid Peniggalan Bersejarah & Permuseuman Ibu Rika Cherish. Taklupa rekan satu profesi Martha yakni Remi Decker seorang musisi dari Belgia ikut memberi semangat kepada  Martha. Ibu Hiltrud Cordes yang juga seorang budayawan tampil sebagai penerjemah. Beliau bersama Edi Hutama menjadi kurator dalam Simfest kali ini.

Martha berasal dari Kota Juchitan[1] yang terletak di daerah Oaxaca[2] salah satu propinsi di Negara Mexico. Kota ini bernama resmi Juchitan de Zaragoza, merupakan salah satu kota dengan kekayaan warisan kolonial di Mexico. Unesco telah mengakui kota ini sebagai salah satu warisan dunia.

Martha berasal dari Suku Zapotecs, salah satu dari dua suku besar di Juchitan. Suku Zapotecs merupakan suku asli yang pada masa sekarang telah menganut agama Katholik. Namun walaupun begitu masih terdapat sisa-sisa kebudayaan pra-Kristen dalam kehidupan masyarakat Zapotecs sekarang. Hal inilah yang disoroti oleh Martha dalam usaha memperkenalkan negeri asalnya kepada masyarakat Kota Sawhlunto.

Martha menjelaskan bahwa masyarakatnya memiliki banyak upacara adat, semenjak dari kelahiran hingga kematian. Menurutnya dengan menjalani segala macam bentuk upacara adat tersebut, dapat membuat seseorang menjadi lebih baik. Walupun telah menganut agama Kristen Katholik, namun masyarakat Suku Zapotecs masih memelihara beberapa tradisi yang berasal dari kebudayaan pra-Kristen tersebut. Diantaranya ialah perayaan beberapa ritual tahunan yang dianggap sakral oleh masyarakat mereka.

Diantara beberapa ritual tahunan yang masih dijalani oleh masyarakat Suku Zapotecs ialah perayaan hari kelahiran. Ritual ini berbeda dengan pesta ulang tahun yang diadakan oleh masyarakat modern sekarang. Ada kepercayaan dalam masyarakat Zapotecs bahwa ulang tahun merupakan peristiwa sakral terutama sekali jika bilangan umur seseorang telah mencapai angka genap. Martha menunjukkan sebuah foto dimana seorang nenek yang telah menginjak usia yang ke-80 merayakan hari kelahirannya dengan memakai pakaian tradisional Meksiko, serta dihadiri oleh segenap anak cucunya.

Foto berikutnya ialah foto yang diambil ketika upacara pemanggilan roh nenek moyang. Tampaknya ritual ini tidak berasal dari kepercayaan Katholik, dan seperti yang diakui oleh Martha sendiri kalau ritual ini merupakan ritual peninggalan dari kebudayaan pra-Kristen. Pada ritual ini terlihat orang-orang yang terlibat dalam upacara ini mengenakan pakaian serba putih, tidak hanya pakaian akan tetapi penutup kepala yang juga bewarna putih.

Ritual berikutnya ialah pernikahan, dalam fato yang dipamerkan oleh Martha terlihat pihak perempuan menjemput mempelai laki-laki. Hal ini sempat menarik perhatian beberapa pengunjung pameran. Diantaranya ialah Ibu Rika Cheris, beliau tertarik sekali dengan kesamaan budaya masyarakat Suku Zapotecs dengan masyarakat Minangkabau. Menanggapi pertanyaan dari tersebut, Martha menjelaskan walau mereka bersuku ke ibu namun dalam pernikahan perempuan tetap tinggal di rumah suami.

Martha juga menjelaskan mengenai keunikan pandangan kaum lelaki terhadap perempuan Meksiko. Bagi kaum lelaki di Meksiko, perempuan akan terlihat lebih menarik kalau memiliki bahu yang besar. Penjelasan martha ini sempat mengundang senyum dari Pak Walikota. Hal ini tentu bertolak belakang dengan pendangan umum kalum lelaki di beberapa kebudayaan di belahan dunia.

Satu lagi penjelasan dari Martha mengenai kebudayaan masyarakatnya yang tak mungkin dilupakan ialah mengenai “Muxes”. Apa itu Muxes? Muxes merupakan pria yang hidup layaknya wanita, mungkin kurang lebih sama dengan banci atau bahasa halusnya waria di Indonesia. Bedanya ialah keberadaan mereka diakui dan dianggap sebagai sesuatu yang lazim pada masyarakat mereka. Para muxes ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan ibu mereka, tinggal bersama ibu, dan sangat disayangi oleh sang ibu.

Penjelasan Martha berakhir dengan panggilan untuk check sound oleh Sang Kurator Edi Hutama.  Bapak Walikota, Kepala Dinas Pariwisata, dan Ibu Plt. Kabid. Peninggalan Bersejarah & Permuseuman Kota Sawahlunto serta para peserta kelihatan puas dengan penjelasan dari Martha. Merupakan hal baru bagi kami mengetahui perihal kebudayaan masyarakat lain yang berada jauh di Benua Amerik. Apalagi Martha memuji Sawahlunto karena dia merasa seperti di kampung halamannya, Juhitan.

 

dimuat di buletin Sawahlunto Museum News edisi ke-4


[1] Dibaca Hucitan

[2] Dibaca Wakaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s