Peninggalan Belanda di Silungkang

Jembatan Silungkang

Oleh: Fachrie Ahda

Sesungguhnya Nagari Silungkang yang pada saat sekarang ini merupakan bagian dari wilayah administraif Kota Sawahlunto banyak menyimpan potensi wisata, utama sekali wisata sejarah. Nagari yang dilalui Jalan Lintas Sumatera ini pada saat sekarang terbagi atas empat desa yakni Desa Silungkang Oso, Silungkang Duo, Silungkang Tigo dan Muaro Kalaban. Nagari ini memang luas, namun sayang pada masa sekarang ini dikarenakan kebijakan pemerintah, maka pemerintahan nagari hanya dapat ditegakkan di kabupaten-kabupaten di Propinsi Sumatera Barat.

Silungkang terkenal dengan Pemberontakan Silungkang-nya yang terjadi pada tahun 1927. Pemberontakan ini merupakan pemberontakan kaum buruh yang diorganisir oleh Partai Komunis Indonesia kala itu. Selain itu Silungkang juga dikenal dengan kerajinan tenunnya. Tenunan Songket asal Nagari Silungkang tak kalah indahnya dengan Songket Pandai Sikek di Luhak Agam. Silungkang juga dikenal dengan ketegasan adatnya yang melarang anak nagari menikah dengan orang di luar Nagari Silungkang. Walau sekarang telah berubah seperti kata pepatah adat sakali aia gadang, sakali tapian barubah (sekali air besar, sekali tepian berubah), namun orang-orang di luar Nagari Silungkang masih tetap terkenang dengan Adat Nagar Silungkang yang keras itu.

Silungkang merupakan salah satu nagari di Minangkabau yang mengalami persentuhan langsung dengan bangsa Barat. Jalur kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dengan Telukbayur melintas di nagari ini. Di nagari ini masih banyak terdapat rumah-rumah lama peninggalan dari masa kolonial. Apakah itu rumah adat ataupun tidak. Hingga saat ini rumah-rumah tersebut masih dihuni namun ada juga yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya.

Selain rumah, di Silungkang juga terdapat sebuah jembatan yang melintas di atas Sungai Lasi. Menghubungkan Pasar Silungkang dengan Stasiun Kereta Api. Sangat menarik karena sama sekali tidak terdapat tiang penyangga pada jembatan ini. Sungguh menakjubkan karya arsitektur kolonial yang satu ini. Bentuknya melengkung, lebarnya kurang dari dua meter, hingga kini masih digunakan oleh penduduk setempat.

Jembatan Silungkang Sekarang
Foto: Koleksi MGR

Banyak yang kagum akan kehebatan Kompeni Belanda, tidak hanya terkenal sebagai pedagang yang handal, orang Belanda juga dikenal sebagai arsitek yang hebat. Banyak dari bangunan-bangunan peniggalan mereka di negeri ini masih tetap kokoh berdiri. Padahal telah berulang kali negeri ini diguncang gempa. Banyak bangunan-bangunan yang lebih muda yang diarsiteki dan dibuat oleh orang Indonesia roboh tak berbentuk. Seharusnya hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

Salah seorang kenalan arsitek pernah berkata kalau orang Belanda dalam hal membangun suatu bangunan mereka boros. Tentunya boros dalam artian yang baik yakni semua material bahan bangunan benar-benar direncanakan dan disediakan demi keindahan dan kekokohan bangunan yang mereka bangun. Beda dengan kita orang Indonesia yang kurang matang dalam perencanaan ditambah lagi sikap mentalitas dilapangan yang buruk. Akibatnya, kita sendiri yang rugi, terkadang yang terburuk ialah nyawa jadi taruhannya.

Seandainya saja dalam hal membangun suatu banguan kita benar-benar merencanakan dengan matang. Segala bahan-bahan benar-benar digunakan sebagaimana mestinya, serta dalam pengerjaan dilakukan dengan semestinya juga sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan. Insya Allah takkan ada lagi bangunan yang roboh dihoyak gempa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s