Orang Rantai

PENJARA ORANG RANTAI

(SUNGAI DURIAN)

Oleh : Yuristya Mega, SS

Tembok Penjara Orang Rantai.
Sisa-sisa reruntuhan dari Penjara Orang Rantai di Desa Sungai Durian
Foto: Koleksi MGR

Penjara orang rantai merupakan salah satu saksi bisu dari keberadaan orang rantai di Kota Sawahlunto pada zaman Kolonial Belanda. Penjara ini dibangun pada tahun 1925 dan sampai saat ini masih tersisa puing-puing bangunan penjara yang secara tidak langsung dapat menggambarkan keadaan  atau kondisi orang rantai di dalam penjara pada saat itu.

Penjara yang berlokasi di daerah Sungai Durian ini pada zaman Belanda dikenal juga dengan sebutan “Penjara Panas”, karena tahanan yang ditahan di dalam penjara ini adalah tahanan yang mendapatkan hukuman berat. Di dalam penjara juga terdapat lubang tambang batubara dengan satu pintu masuk sekaligus pintu keluar. Lubang tambang itu digunakan sebagai tempat orang rantai bekerja secara paksa untuk menggali batubara.

Salah seorang saksi hidup, yaitu Bapak Adjoem, menggambarkan keadaan didalam penjara orang rantai dahulunya seperti gambar berikut ini :

Selain bui-bui, di dalam penjara itu juga terdapat berbagai macam ruangan untuk mengatur orang rantai sebelum dan sesudah masuk dari dalam lubang tambang. Ruangan tersebut diantaranya adalah ruanganan ADM yang berfungsi sebagai tempat memeriksa atau menseleksi kesehatan orang rantai sebelum masuk ke dalam lubang tambang batubara. Jika orang rantai tersebut dinyatakan sehat, maka rantai nya dilepas dan kemudian dipersilahkan untuk mengambil lampu, batrai atau perkakas lain di ruangan penyimpan perkakas dan kemudian langsung masuk ke dalam lubang tambang batubara. Ketika hendak keluar lubang tambang, para orang rantai juga harus melewati prosedur di masing-masing ruangan dalam penjara tersebut.

Prosedur ini diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk mengurangi jumlah tahanan /orang rantai yang melarikan diri. Begitu ketatnya prosedur dan kerasnya kehidupan didalam penjara yang harus dijalani oleh orang rantai, terkadang membuat mereka tidak tahan dan berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri walau bagaimanapun caranya, tanpa mempedulikan kerasnya hukuman yang akan mereka terima jika mereka tertangkap bahkan nyawa merekapun akan menjadi sasaran.

Begitulah sekelumit cerita tentang penjara orang rantai. Tidak hanya sejarah yang dapat bercerita, namun bangunan pun dapat bercerita dan mengambarkan apa yang terjadi di dalam bangunan itu pada zaman dahulunya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s