Sawahlunto, Batubara, & Kolonialisme

Sawahlunto dan Perkembangan Ekonomi Zaman Hindia Belanda

Oleh : Imelia Wulandari, SS

Sawahlunto, masa Hindia Belanda adalah penghasil gulden bagi pemerintah Hindia Belanda, bagaimana tidak, di Sawahlunto ini pemerintah Hindia Belanda membangun mega proyek tambang batubara. Dari segi ekonomi, keberadaan Sawahlunto hampir sama dengan Batavia, Bandung dan Jogjakarta pada masa itu. Hanya saja Batavia, Bandung, dan Jogjakarta menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan sekaligus. Sawahlunto pada masa Hindia Belanda hanya menjadi pusat perekonomian sedangkan pusat pemerintahan Sumatra Westkust berada di Kota Padang.

Gedung Societeit di Pusat Kota Sawahlunto
Sumber Foto: ANRI

Pemerintah Hindia Belanda melihat Sawahlunto dari segi keuntungan ekonomi. Dimana  Sawahlunto merupakan sebuah wilayah yang sengaja dibangun untuk kepentingan ekonomi kolonial yakni eksploitasi batubara. Pembangunan berbagai fasilitas di Sawahlunto tidak terlepas dari kehidupan tambang. Tambang merupakan penyebab kelahiran Sawahlunto, tambang pula yang menyebabkan dirinya hidup. Beragam orang didatangkan atau dipaksa untuk datang, walau ada juga beberapa orang yang sengaja datang karena melihat adanya peluang dibidang ekonomi di daerah ini.

Pada awalnya daerah Sawahlunto merupakan bagian dari Kelarasan Silungkang, Onderafdeeling Koto VII, Afdeeling Tanah Datar. Kemudian pemerintahan di daerah ini mulai berkembang hingga akhirnya Sawahlunto memiliki pemerintahan sendiri. Dimana hingga kini kita masih dapat melihat rumah Residen Sawahlunto yang sekarang menjadi Rumah Dinas Walikota Sawahlunto.

Peranan batubara dalam perekonomian kolonial masa itu sangatlah penting. Sama kiranya dengan minyak bumi pada masa sekarang. Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan eranya mesin uap, untuk menggerakkan mesin ini dibutuhkan batubara sebagai bahan bakar utamanya. Oleh karena itu, komoditi tambang yang satu ini menjadi komoditi utama di pasar internasional. Segala industri yang dimiliki barat membutukan batubara, batubara yang kemudian digantikan oleh minyak bumi menjadi primadona.

Stasiun Kereta Api Sawahlunto di Kampuang Teleng
Sumber Foto: ANRI

Belanda benar-benar menuai untung dengan penambangan batubara di Sawahlunto. Untuk mempelancar dan memperkecil biaya produksi maka didatangkan buruh paksa atau biasa disebut dengan “orang rantai” oleh penduduk setempat. Dengan upah yang kecil, buruh ini telah membuat Belanda berhasil melakukan penghematan untuk memperbesar keuntungan dalam industri tambang di Sawahlunto.

Pertumbuhan Sawahlunto sebagai sebuah kota telah memberikan dampak yang besar kepada Sumatera Barat. Pembangunan rel kereta api tidak hanya dari Sawahlunto menuju Padang saja, akan tetapi juga dibangun jalur kereta api menuju Bukittinggi, Payakumbuh, dan Pariaman. Pembukaan pabrik semen di Padang yang merupakan pabrik semen tertua di Asia, merupakan akibat dari penambangan batubara dan pembangunan rel kereta api.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s