The Liem Family of Sawahlunto

Kenangan di Sawahlunto

Oleh: fachrie ahda

Tampak Belakang dari Rumah Keluarga Liem di Pasar Remaja
Foto: Koleksi MGR (Diambil dari Kampuang Teleng)

Tidak ada yang akan percaya jika dikatakan kalau masa dahulu Kota Sawahlunto merupakan kota yang ramai. Datanglah ke Sawahlunto, pada saat sekarang kota ini hanya kota kecil dimana pusat keramaian hanya terdapat di pusat kota. Adapun pusat kota Sawahlunto terletak di suatu lembah yang bernama Lembah Segar. Konon dahulunya, lembah ini hanyalah berupa areal persawahan yang dimiliki oleh penduduk dari Nagari Kubang. Nagari Kubang sendiri satu dari sekian nagari yang terletak di sekeliling lembah ini.

Hampir disetiap kota yang didirikan Belanda akan kita jumpai pemukiman orang Tionghoa, apakah itu Pecinan layaknya nama yang disematkan orang Barat atau Kampung Cina atau Kampuang Cino dalam bahasa Minangkabau.

Amatlah terasa aneh jika kita berkunjung ke Sawahlunto tidak menemukan adanya Kampuang Cino. Sebenarnya daerah semacam Kampuang Cino pernah ada di Sawahlunto, namun pada saat ini namanya telah diganti menjadi “Pasar Remaja” yang merupakan pasar terbesar yang ada di Sawahlunto. Kenapa kok bisa berubah nama?

Tampak Muka (Depan) dari Bekas Rumah Keluarga Liem. Sebagian dari bangunan muka menjadi Kantor Bank BPR dan sebagian lagi (sebelah kanan dari Bank BPR) dijadikan kedai oleh penduduk setempat.
Foto: Koleksi MGR

Sekitar tahun 1950-an mulai banyak orang Tionghoa keluar dari Sawhlunto, bangunan-bangunan toko yang mereka miliki dijual dan berpindah kepemilikan. Hingga saat ini hanya terdapat sekitar 10 orang Tionghoa di Sawahlunto dan tidak semuanya berprofesi sebagai pedagang. Melihat keadaan yang

demikian, dimasa pemerintahan Pak Shaimoery sebagai Walikota Sawahlunto, nama Kampung Cina diganti dengan nama “Pasar Remaja”. Makna dari nama ini ialah pasar yang diremajakan kembali.

Di komplek pasar ini pernah tinggal salah satu keluarga yang dikepalai oleh Liem Giem To yang kemudian memutuskan untuk pindah dari Sawahlunto. Sebelumnya dia berprofesi sebagai pemasok makanan bagi karyawan di Perusahaan Tambang Ombilin. Mereka sekeluarga pindah ke Kota Padang dan menggeluti usaha Laundry di kota tersebut. Tak berapa lama kemudian, keluarga ini akhirnya pindah ke Jakarta. Kelak salah seorang anak dari keluarga ini menjadi salah satu seorang yang berpengaruh dibidang ekonomi di Indonesia. Anak dari Liem Giem To bernama Liem Bian Koen yang lebih dikenal oleh khalayak dengan nama Sofyan Wanandi.

Tampak Muka dari Rumah Keluarga Liem. Pada Gambar tampak bagian dari kawasan hadapan rumah yang menjadi kedai. Berbatasan langsung dengan gang. Dan disebelahnya terda[at Gedung Pegadaian.
Foto: Koleksi MGR

Menurut cerita dari orang tua-tua di Sawahlunto, ayah dari Liem Giem To merupakan “Kapten Cina” di Sawahlunto. Kapten Cina merupakan sebuah jabatan yang dibuat oleh Belanda dan diperuntukkan hanya untuk orang Cina. Tujuannya ialah sebagai pemimpin sekalian orang Cina yang ada di suatu wilayah atau kota di zaman kolonial.

Sekarang rumah bekas milik keluarga “Liem” ini sebagian telah dimanfaatkan sebagai bangunan pertokoan. Sedangkan bagian lain digunakan sebagai hunian. Sisa-sisa kejayaan masa lalu masih terlihat, mengintip dibalik kusamnya tembok-tembok dan lapuknya bingkai jendela. Rumah ini menjadi salah satu saksi kejayaan masa lalu di Kota Sawahlunto.

Menyenangkan tatkala membayangkan rumah ini pernah hidup dengan teriakan orang dewasa, tangisan anak kecil, dan cilotehan dari kaum ibu, serta ramainya orang-orang yang berkunjung. Menyedihkan ketika hari ini kita saksikan daun-daun jendela ditutup, atap seng sudah koyak dan karatan. Menunggu tangan-tangan jeli untuk memugar dan mengembalikan sosoknya seperti sediakala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s