The Heritage Town

Sebuah Kota Warisan

(you can feeled but you cannot touched)

Oleh: Redaksi Sawahlunto Museum News

Salah satu Bekas Rumah Dinas Jaksa Belanda
Foto: Koleksi MGR

Sawahlunto merupakan satu-satunya kota di Sumatera Barat bahkan di Indonesia yang masih memelihara beragam bangunan peninggalan kolonial. Jadi tidak salah apabila dikatakan sebagai “Belanda Kecil” karena hingga kini kita masih dapat menikmati peninggalan dari masa lalu. Itu semua disajikan gratis, dapat kita nikmati jika kita mengunjungi Kota Tua yang terletak di daerah yang dulunya merupakan bekas areal persawahan.

Beberapa bangunan sudah dipercantik, perumahan buruh tambang yang dulunya tidak tertata dengan baik dan sama sekali tidak ada sedapnya untuk dipandang, sekarang telah tertata dengan baik. Tentu saja sekarang yang tinggal disana tidak seluruhnya buruh tambang, sebab pertambangan di Sawahlunto sudah tinggal sedikit. Oleh karena itu, peralihan dari dunia tambang ke dunia pariwisata sedang gencar-gencarnya di “propagandakan”.

Sekolah Santa Lucia yang satu komplek dengan gereja Katholik saat ini masih menjalankan fungsi yang sama dengan yang dijalankannya dahulu. Hal yang sama juga masih berlaku bagi Wisma Obmilin, sebagai tempat penginapan, walaupun pada saat ini sedang turun pamornya semenjak “Parai Hotel” resmi beroperasi di kota ini. Begitu juga dengan bangunan Kantor Pusat PT BA yang menjadi salah satu landmark kota. Serta gedung Societet yang dulunya pusat bagi kebudayaan kolonial, sekarang menjadi pusat bagi kebudayaan masyarakat Sawahlunto. Namun sayangnya semenjak beberapa bulan yang lalu, gedung ini sudah dilimpahkan kepada swasta untuk mengelolanya oleh Pemda. Ada juga bangunan “Pek sin kek” bangunan dengan arsitektur Cina yang saat ini masih dimiliki oleh saudara kita dari etnis Tionghoa.

Bangunan lain sudah banyak yang berubah fungsi, seperti menjadi kantor bagi institusi pemerintah atau swasta. Hal ini tentunya jauh lebih baik daripada dibiarkan terbengkalai begitu saja, sebab kalau dibiarkan terbengkalai, lama-kelamaan bisa roboh dengan sendirinya dan kota ini akan kehilangan mata rantai sejarahnya.

Siapapun yang memasuki kota ini pasti akan merasakan apa yang penulis rasakan juga, “ anda bisa merasakan tapi anda tidak bisa menyentuhnya – you can feeled but you cannot touched”…

Tulisan singkat ini diharapkan dapat memancing kepedulian kita untuk terus menjaga dan melestarikan apa yang telah ada. Mengganti dengan bangunan baru yang kita harapkan akan lebih baik dan praktis bukanlah solusi dan belum tentu lebih baik seperti yang kita harapkan. Dan tentu saja, harapan lainnya ialah untuk dapat menarik perhatian para wisatawan supaya berkunjung ke kota kecil kami ini sebagai tambahan devisa bagi penduduk kota.

Kecil tapi manis,

Walau kecil namun memikat,

kecil tapi rupawan,

dan tentu saja lebih rapi dan bersih dari kota lain yang ada di Sumatera Barat, datanglah dan temukan chemistry-nya…

Inilah secuil kisah mengenai Kota Sawahlunto, salah satu kota warisan kolonial di Indonesia. Kota yang tahun 2011 ini akan genap berusia 123 tahun. Selamat hari jadi Kota Arang, semoga dimasa depan engkau akan semakin kokoh berdiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s