Kearifan Lokal

BAKARU

Kebudayaan Unik Yang Masih Tetap Bertahan

Oleh: Kurnia Illahi Manvi, Amd

Suasana Prosesi Baureh yang dipercaya dapat mengobati semua penyakit.
Foto: Syukri, S.Sn

Kegiatan Ritual Bakaru  sangat dinantikan oleh masyarakat di Nagari Kajai. [1] Karena pada hari ritual ini dilaksanakan, setiap masyarakat meninggalkan semua aktifitasnya dan ikut serta memeriahkan prosesi adat tersebut. Selain itu, ritual adat ini dipercaya masyarakat sebagai penolak bala, penolak maksiat, menghindari nagari dari kegaduhan serta agar anak nagari dapat memperoleh hasil bumi yang melimpah.

Adapun Prosesi adat Ritual Bakaru dilaksanakan di Balai Adat Nagari Kajai. Acara dimulai dengan arak-arakan membawa dulang[2] makanan yang diiringi dengan lantunan alat musik tradisional khas Minangkabau.[3] Arak-arakan ini terbagi dua yakni dari arah sebelah timur dan arah sebelah barat dari Nagari Kajai.

Prosesi ritual Bapuau di Nagari Kajai.
Foto: Syukri, S.Sn

Prosesi adat ini akan dihadiri oleh para penghulu dari sembilan nagari. Kesembilan penghulu itu ialah dari Nagari Kubang sebanyak 2 orang, Nagari Lunto 2 orang, Nagari Simarambang 2 orang, dari Nagari Kolok dua orang, dan dari Nagari Kajai yang merupakan tuan rumah satu orang. Selain para penghulu juga turut hadir  kalangan Bundo Kanduang dan anak yatim dari Nagari Kajai.

Kemudian prosesi ini akan dilanjutkan dengan memotong satu ekor ayam. Ayam yang dipotong bukanlah ayam biasa, sebab harus memenuhi beberapa persayaratan tertentu. Salah satunya ialah, ayam tersebut harus berwarna merah sebagai perlambang ayam jago. Kemudian darahnya diteteskan pada batu yang ada di dalam balairung yang jumlahnya sembilan buah (masing-masing batu mewakili setiap nagari yang diundang), serta dilengkapi dengan sitawa sidingin.[4] Orang yang meneteskan darah ke batu ialah penghulu yang sembilan orang. Selanjutnya pembacaan do’a.

Suasana didalam balairung adat saat prosesi ritual Bakaru
Foto: Syukri, S.Sn

Selanjutnya para peserta arak-arakan yang membawa dulang bertemu di depan balairung. Dulang yang mereka bawa akan diletakkan ke hadapan peserta dan tamu undangan. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan dari tetua kampung Balai Batu Sandaran (bagian dari Nagari Kajai).

Setelah itu dilanjutkan dengan basanji[5]. Selepas basanji dimulailah jamuan makan. Layaknya prosesi adat di Minangkabau maka untuk memulai jamuan makan maka diawali dengan pasambahan[6] makan, yang dibawakan oleh seorang malin[7].

Baureh merupakan ritual terakhir dalam prosesi ini. Baureh adalah Do’a tolak bala yang dipanjatkan kepada yang Maha Kuasa dan diakhiri dengan prosesi mencipratkan air melalui dedaunan, setiap orang yang hadir wajib mendapat cipratan air tersebut karena diyakini berkhasiat dapat menghindarkan kita dari marabahaya dan mengobati berbagai macam penyakit.

Setelah jamuan makan, diadakanlah pertunjukan kesenian tradisional seperti silat tuo[8],randai dan tari piring. Acara akan ditutup dengan ritual bapuau. Ritual bapuau ini juga unik. Sebab ritual ini sesungguhnya merupakan permainan perang-perangan antara dua suku. Dalam peperangan ini mereka saling melempar pohon pisang yang telah dipotong kecil sebesar kepalan. Hal ini bermakna sebagai memper-erat hubungan silaturahmi antar suku di Nagari Kajai.

Demikianlah Prosesi Ritual Adat Bakaru yang sampai saat sekarang ini masih tetap dilakukan oleh masyarakat Nagari Kajai Kota Sawahlunto.

 

 

 

 


[1] Nagari sering disamakan dengan Desa dalam segi pemerintahan.

[2] Sejenis piring besar yang terbuat dari keramik atau alumunium.

[3] Seperti talempong, rebana, dan gendang.

[4] Sejenis daun yang dikenal sebagai obat herbal.

[5] Semacam Shalawat yang dilantunkan dengan irama dan gerak badan tertentu. Hal ini biasa dilakukan oleh kelompok tarekat di Minangkabau.

[6] Untaian kata-kata adat penuh makna yang dilakukan antara dua orang yakni fihak tuan rumah dan fihak tamu.

[7] Suatu jabatan adat yang dipegang oleh seorang yang ahli ilmu agama.

[8] Silat Tuo merupakan salah satu aliran dalam Ilmu Silat di Minangkabau.

2 pemikiran pada “Kearifan Lokal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s