Para Kuli, Pasar Malam, & Perbudakan

SAWAHLUNTO DAN HIBURAN MASA KOLONIAL

Oleh        : Imelia Wulandari, SS

Sawahlunto merupakan kota bentukan Pemerintah Kolonial Belanda. Disebut kota bentukan karena memang Sawahlunto sengaja dibentuk oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Hal ini karena tergiur akan hasil tambang batubaranya yang melimpah.  Dengan semua perencanaan akhirnya Pemerintah Kolonial Belanda membangun dan merencanakan Sawahlunto sebagai Kota Tambang. Mulai dari perkantoran, perumahan buruh, rumah sakit, penjara dan semua fasilitas yang mendukung. Supaya pertambangan itu berjalan dengan baik dan menguntungkan.

Kehidupan di Sawahlunto berjalan sesuai dengan harapan dari Pemerintah Kolonial sebagai kota tambang batubara yang menguntungkan. Walaupun demikian,  di tengah kekakuan dan rutinitas tambang yang keras, pemerintah kolonial berupaya menghadirkan hiburan bagi masyarakat lokal dan buruh tambang. Hiburan tersebut berupa: ronggeng, rumah komidi, tonel bahkan perjudian dihadirkan dan dilegalkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Sawahlunto.

Pemerintah Kolonial Belanda sengaja mengontrak kelompok ronggeng atau tandak setidaknya enam bulan berturut-turut. Kemudian setelah enam bulan kelompok ronggeng ini kemudian digantikan oleh kelompok ronggeng lain yang lebih menarik. Perjudian di hadirkan di barak-barak kuli sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Pertunjukan tonil di hadirkan di kota kecil ini, salah satunya adalah pertunjukan tonil yang di hadirkan pada bulan Desember tahun 1917. Cukup menarik memang, karena pada tahun 1917 banyak daerah- daerah di Sumatera yang belum pernah di hadirkan  pertujukan Tonil seperti di Sawahlunto.

Persimpangan Lapseg.
Pada masa dahulu, segala jenis hiburan berpusat di Tanah Lapang. Sekarang, pusat hiburan di Sawahlunto ialah Lapangan Segitiga.
Foto: Koleksi Ronald, MD

Masayarakat pun ramai menonton pertunjukan tonil tersebut. Hal ini terbukti dari hasil pengumpulan tiket masuk untuk menonton tonil tersebut yang mencapai keuntungan f 252.75. Keuntungan yang cukup banyak untuk sebuah pertunjukan  di kota kecil seperti Sawahlunto.

Begitulah Sawahlunto, di tengah hiruk pikuk aktivitas pertambangan, terselip hiburan-hiburan yang memang tidak gratis. Semuanya di rancang oleh pemerintah kolonial supaya uang-uang yang diterima oleh kuli dari hasil keringat mereka tetap berputar di lingkungan mereka. Sehingga para kuli kemudian bekerja terus menerus dan terikat kontrak terus menerus. Hal ini karena uang hasil keringat mereka di hambur-hamburkan di arena perjudian, di pertunjukan ronggeng, tonil dan hiburan hiburan lokal lainnya yang digelar oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Ini adalah salah satu politik Pemerintah Hindia untuk tetap mengikat buruh-buruh tambang agar tetap bekerja di Sawahlunto. Hal ini disebabkan untuk mendatangkan buruh tambang bukanlah pekerjaan yang mudah dan murah. Ribuan buruh tambang yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara dihadirkan ke Sawahlunto dengan berbagai cara oleh pemerintah Hindia Belanda.

Walaupun sebenarnya terdapat hubungan yang saling menguntungkan antara para buruh dan Pemerintah Kolonial, namun tetap saja Pemerintah Kolonial Belanda tidak ingin menderita kerugian dengan mendatangkan buruh baru, membuat kontrak baru. Dan tentu saja bagi buruh baru mereka perlu penyesuaian dengan pekerjaan tambang, sehingga hasil yang mereka peroleh tidak akan sebanyak buruh lama yang sudah terlatih. Begitulah politik Pemerintah Kolonial dalam merancang suatu hiburan untuk para buruh yang dihadirkan di pertambagan dan proyek-proyek besar lainnya di Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s