Mak Itam di Minangkabau

Museum Kereta Api (MKA)

Bukti perjalanan panjang sebuah kota

Oleh : Sevly Eka Putri, SST.Par

Sawahlunto adalah sebuah kota dengan keadaan geografisnya dikelilingi oleh perbukitan, sehingga tampak seperti sebuah lembah yang tersembunyi. Bisa dipastikan tidak mudah untuk keluar-masuk Kota Sawahlunto pada zaman dahulunya, disaat belum ada jalan darat yang memadai seperti sekarang.

Mak Itam
Masyarakat Minangkabau Mengenal Kereta Api dengan nama “Mak Itam”
Foto: Koleksi MGR

Pemerintah Kolonial Belanda, ketika pertama kalinya melakukan penambangang batubara di Sawahlunto mengalami kesulitan dalam hal pengangkutan hasil tambang keluar dari Sawahlunto. Jalur sungai tidaklah memungkinkan sebab airnya deras, sempit dan tidak begitu dalam. Kemudian menggunakan kuda, tapi susah, lama, tidak efektif dan efisien. Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan untuk membuat jalur kereta api guna memperlancar proses pengangkutan batubara dari Sawahlunto ke pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur) di Padang.

Sebelum adanya infrastruktur kota tambang yang lengkap seperti sekarang, hanya ada sedikit bangunan di Kota Sawahlunto.  Namun setelah dibangun jalur kereta api ke Sawahlunto, maka dibuatlah stasiun kereta api yang kemudian berlanjut dengan pembangunan infrastuktur lainnya seperti: PLTU, kompleks dapur umum, penjara, kantor administrasi tambang, dll.

Foto-foto yang di pamerkan dalam MKA
Foto: Koleksi MGR

Seiring perkembangan zaman, kereta api tidak lagi menjadi model transportasi utama untuk masuk ke Sawahlunto. Sebab selain membangun jalan kereta dari Sawahlunto menuju Muarokalaban. Pemerintah Kolonial Belanda juga membuat jalan darat yang dapat dilalui oleh pedati. Jalan itulah yang sekarang menjadi penghubung Sawahlunto dengan dunia luar.

Apalagi semenjak tambang  batu bara  tidak  seaktif  dulu,  semua proses pengangkutan batubara pada saat sekarang dilakukan dengan menggunakan truk. Hal ini menyebabkan Stasiun Kereta Api Sawahlunto kehilangan fungsinya. Akhirnya pada bulan Desember 2007, stasiun kereta api satu-satunya di Sawahlunto ini dialih fungsikan menjadi Museum Kereta Api II setelah Museum Kereta Api Ambarawa di Jawa Tengah.

Miniatur Lokomitif dan Gerbong di Ruang Pameran MKA
Foto: Koleksi MGR

Pada Museum Kereta Api Sawahlunto ini dipamerkan foto berbagai jenis kereta api yang digunakan pada masa kolonial dahulunya. Selain itu juga ada miniatur lokomotif uap serta berbagai peralatan yang digunakan di stasiun. Peralatan itu seperti: mesin hitung, brangkas, lampu peron, jam stasiun, dll. Di Museum ini juga disediakan ruang audio visul untuk menonton filem dokumenter sejarah museum kereta api.

Biaya masuk museum ini sangat murah dengan membayar Rp. 3.000,- untuk satu orang dewasa dan Rp. 2.000,- untuk satu orang anak-anak, anda sudah bisa menikmati galeri dan memonton audio visual. Datanglah ke museum, karena museum memberikan kita kenikmatan mempelajari sejarah yang lebih asyik daripada di kelas. Silahkan bawa putra-putri anda untuk meningkatkan kecintaannya terhadap sejarah. Ingatlah JAS MERAH (Jangan Melupakan Sejarah), karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s