Sawahlunto: Dari Kota Tambang ke Kota Wisata

Oleh: Witrianto, SS, Mhum, Msi

(Staf Pengajar pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Univ. Andalas, Padang)

Kota Sawahlunto merupakan salah satu dari tujuh kota otonom yang ada di Sumatera Barat. Kota ini juga dikenal dengan sebutan Kota Tambang, karena daerah ini merupakan satu-satunya daerah penghasil batubara yang ada di Sumatera Barat dan sudah dieksplorasi semenjak zaman penjajahan Belanda. Selain sebutan sebagai Kota Tambang, Sawahlunto juga dikenal dengan sebutan “Kota Kuali”, hal ini disebabkan karena daerah ini dikelilingi oleh bukit-bukit dan lembah-lembah sehingga menyerupai kuali.


Pemandangan Kota Sawahlunto pada masa sekarang.Foto: Koleksi MGR

Pemandangan Kota Sawahlunto pada masa sekarang.
Foto: Koleksi MGR


Kota Sawahlunto pernah mencapai puncak kejayaannya di bidang pertambangan tahun 1930-an, namun mengalami penurunan yang drastis semenjak masa awal tahun 2000-an. Cadangan batubara yang selama ini menjadi Pendapatan Asli daerah (PAD) mulai menipis. Cadangan tambang terbuka telah habis, walaupun deposit tambang dalam masih tersedia sekitar ± 100 juta ton lagi. Akan tetapi, cadangan batubara tersebut belum dapat ditambang mengingat harga batubara yang sangat rendah dan biaya produksi yang sangat tinggi.

Pemasukan daerah yang telah berkurang dari batubara, membuat Pemerintah Kota Sawahlunto harus mencari sumber pendapatan ekonomi baru. Pendapatan Asli Daerah yang biasa didapat dari pertambangan kemudian dialihkan ke usaha Pariwisata Tambang dengan beberapa wisata penunjang yang disertai rumusan visi Kota Sawahlunto dalam Perda Nomor 2 tahun 2001 yaitu “Sawahlunto Tahun 2020 menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya”.

Rumusan visi ini menjadi perbincangan sampai ke ruang-ruang publik sehingga menjadi jelas dan dipahami. Visi tersebut kemudian dikukuhkan lagi dengan Perda Nomor 6 tahun 2003 tentang Rencana Strategis Pemerintah Kota Sawahlunto tahun 2003-2008 yang merupakan visi dan misi jangka panjang Pemerintah Kota Sawahlunto sampai tahun 2008 di bidang pariwisata.

Seorang pengunjung sedang membaca ulasan singkat perihal Museum Goedang Ranseom di Galeri Utama.Foto: Koleksi MGR

Seorang pengunjung sedang membaca ulasan singkat perihal Museum Goedang Ransoem di Galeri Utama.
Foto: Koleksi MGR

Kota Sawahlunto sebagai kota wisata malah lebih populer dengan pariwisata penunjang dibandingkan wisata utamanya. Hal ini dapat dilihat dari jumlah rata-rata pengunjung wisata penunjang yang lebih banyak dibandingkan wisata utama, begitu juga masyarakat yang lebih mengenal pariwisata penunjang dibanding wisata utama.

PT. BA-UPO yang mengeksploitasi batubara secara legal sejak zaman Belanda telah mewariskan berbagai fasilitas pariwisata potensial. Fasilitas tersebut berupa sarana pertambangan yang masih ataupun yang sudah tidak berfungsi lagi, seperti situs tambang dalam, berupa lorong bawah tanah dan peralatan instalasinya. Tambang terbuka yang menjelma menjadi danau buatan yang dapat dikembangkan menjadi kawasan resort. Lokasi pengolahan tambang berupa peralatan instalasi pencucian dan pemecahan (sizing) batubara yang berasal dari berbagai daerah. Industri kerajinan yang tumbuh berkaitan dengan adanya buruh tambang dan berbagai kesenian yang muncul dan masih bertahan seiring adanya pekerja tambang.

Obyek wisata penunjang yang ada di Kota Sawahlunto di antaranya adalah Waterboom yang merupakan bekas pemandian yang diresmikan pada tanggal 1 Januari 2007, Taman Satwa Kandi, Gelanggang Pacuan Kuda, Road Race, Breeding Farm, dan kawasan wisata air seperti Danau Kandih (yang merupakan bagian dari komplek Kandi)  dan Danau Tandikek. Kesemua obyek wisata penunjang tersebut perwujudan fisiknya dimulai sejak tahun 2005.

Beberapa bentuk upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Sawahlunto yang berhubungan dengan dunia kepariwisataan mulai tahun 2001-2008 adalah sebagai berikut; Langkah awal yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Sawahlunto pada tahun 2001 adalah melakukan Perumusan Visi dan Misi Pariwisata, menyikapi kondisi ekonomi masyarakat Kota Sawahlunto yang mayoritas penduduknya adalah karyawan PT. BA-UPO, di mana PT. BA-UPO adalah perusahaan yang menambang batubara. Sementara semenjak tahun 2000-an, perusahaan PT. BA-UPO mengalami defisit keuangan akibat adanya penurunan produksi. Kemudian Pemerintah Kota Sawahlunto merumuskan visi dan misi di dalam Perda No. 2 Tahun 2001, yaitu “Sawahlunto tahun 2020 menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya”. Hal ini dilakukan untuk menyambut dijadikannya Kota Sawahlunto sebagai kota wisata dalam rangka mencari sektor baru perekonomian kota yang selama ini lebih banyak bertumpu di bidang tambang.

Tulisan Sawahluntofoto: Koleksi MGR

Tulisan Sawahlunto
foto: Koleksi MGR

Perumusan visi dan misi pariwisata ini telah melalui proses yang panjang berupa pertemuan-pertemuan antara pihak terkait kemudian diakhiri dengan dikeluarkannya Perda No. 2 Tahun 2001. Kemudian di tahun yang sama, dalam menyikapi perumusan visi dan misi tersebut, maka dilakukanlah langkah kedua yaitu Penyusunan Buku Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP). Sebagai salah satu bentuk pijakan awal dalam mewujudkan visi dan misi di tahun 2020 menjadi kota wisata tambang yang berbudaya, telah dilakukan berbagai macam usaha yang gigih hasil kerjasama dengan berbagai elemen terkait. Salah satu bentuk perwujudan visi ini adalah degan menyusun buku RIPP. Penyusunan buku ini bekerjasama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPM-ITB) guna melakukan riset sumberdaya di Kota Sawahlunto yang berpotensi wisata. Hasilnya dijabarkan dalam strategi dan agenda 2002-2020 serta program pelaksanaan 2002-2006.

Pada tahun 2003, Pemerintah Kota Sawahlunto melakukan upaya Bimbingan Teknis Kepariwisataan kepada Pengusaha Rumah Makan dan Restoran. Pemerintah Kota Sawahlunto dalam rangka memperbaiki fasilitas dan kualitas layanan sarana dan prasarana penunjang pariwisata kepada wisatawan, telah melakukan bimbingan teknis kepariwisataan kepada pengusaha rumah makan dan restoran yang ada di Kota Sawahlunt,o yang dilakukan melalui staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang merata kepada seluruh pemilik rumah makan dan restoran.

Bentuk kedua dari upaya pengembangan pariwisata Kota Sawahlunto pada tahun 2003 adalah Kerjasama Pemerintah Kota Sawahlunto dengan Sekretariat Dunia Melayu Dunia Islam (SDMDI) Melaka. Kerjasama yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Sawahlunto dengan SDMDI menguasai Tourism Planning Research Group (TPRG) untuk melakukan penelitian wisata. Penelitian ini menghasilkan Action Plan berupa pengembangan pariwisata berbasis Heritage/warisan. Tim peneliti mengelompokkan rute peninjauan bangunan bersejarah (heritage buildings) untuk turis ke dalam empat kelompok, yaitu: pertama, jejak narapidana yaitu membawa turis menghayati kehidupan kuli tambang, kedua, jejak warisan tambang yaitu membawa turis menghayati aktivitas pertambangan, ketiga, jejak elite yaitu membawa turis menghayati kehidupan golongan elite pada masa Belanda, dan keempat, warisan libur yaitu membawa turis menghayati liburan penduduk yang ada pada masa Belanda. Hasil penelitian ini kemudian juga dituangkan dalam buku “Peran Pelancongan Kota Wisata Tambang Sawahlunto Sumatera Barat, Indonesia”.


[1] Staf Pengajar pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s