Ulem-ulem

Oleh: fachrie ahda

Sawahlunto merupakan satu-satunya kota di Sumatera Barat yang multi etnis. Etnis yang menduduki peringkat kedua terbanyak di kota ini sesudah etnis Minang ialah etnis Jawa. Keberadaan etnis ini sudah berlangsung lama, jauh sebelum Indonesia merdeka. Keberadaan mereka di kota ini selalu merujuk kepada Batubara yang hingga kini masih menjadi ciri khas kota ini. Walaupun penambangan batubara sudah mulai berkurang. Namun tetap saja bagi sebagian orang (terutama generasi tua) jika disebut Sawahlunto maka mereka akan terkenang dengan Batubara.

Akulturasi budaya telah lama berlangsung di kota ini. Cukup banyak keragaman dan keunikan budaya hasil akulturasi beragam etnis di kota ini. Salah satunya yang hendak kami bahas dalam tulisan ini ialah ulem-ulem.

Sirih dan Sadah (Kapur)<br /><br /><br />
foto: Internet

Sirih dan Sadah (Kapur)
foto: Internet

Sudah menjadi adat kebiasaan bagi masyarakat tradisional untuk mengundang para tetamu untuk hadir pada acara kenduri atau perhelatan pernikahan dengan cara menuruti  atau mengunjungi setiap calon undangan. Dalam masyarakat Minangkabau tradisonal dikenal tradisi maimbau urang atau manyiriah. Yakni suatu tradisi dimana pihak tuan rumah mengirim dua orang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan mereka untuk mengundang tamu ke rumah masing-masing calon undangan. Biasanya orang yang dikirim untuk mengundang ialah berpasangan, lelaki dan perempuan.

Bagi lelaki membawa rokok atau santo sedangkan bagi perempuan membawa sirih, sadah beserta pinang atau biasa juga disebut dangan siriah langkok. Nanti apabila telah sampai di rumah calon undangan mereka akan menawarkan rokok kepada lelaki dan sirih kepada perempuan. Pihak calon undangan dapat saja menerima ataupun menolak pemberian tersebut. Sebab tawaran tersebut hanya sekedar basa-basai tanda kehalusan budi. Diterimapun tak jadi masalah, justeru fihak pengundang akan merasa senang.

Namun apabila orang yang dituju tidak ada maka pihak pengundang akan meninggalkan atau menitipkan beberapa batang rokok bagi lelaki dan siriah langkok bagi perempuan. Hal ini sebagai tanda bahwa undangan telah sampai kepada mereka.

Di Sawahlunto hal yang serupa juga berlaku, hanya saja para pengundang membawa gula-gula atau permen. Apabila undangan yang dituju tidak ada maka akan dititipkanlah gula-gula tersebut sebagai pertanda bahwa undangan telah sampai kepada mereka.

Permen atau Gula-gulaFoto: Internet

Permen atau Gula-gula
Foto: Internet

Proses mengundang inilah yang bernama dengan ulem-ulem sedangkan dalam masyarakat Minangkabau disebut dengan maimbau urang. Ulem-ulem sendiri berasal dari kata ulem yang memiliki arti mengundang. Merupakan bahasa Sansekerta yang banyak pengaruhnya dalam bahasa Jawa.

Tradisi ulem-ulem di Sawahlunto dianut oleh kebanyakan masyarakat Jawa. Merupakan suatu tradisi leluhur yang mereka bawa dari Tanah Jawa. Proses mengundang atau ngulem masih sama dengan proses manyiriah bagi masyarakat Minangkabau.

Perbedaan kedua tradisi ini ialah selain bawaan yang mereka bawa yakni siriah langkok dan rokok bagi masyarakat Minangkabau sedangkan bagi orang Jawa mereka membawa permen. Yang kedua ialah, para pengundang yang datang untuk mengundang tidak harus berpasangan. Ngulem biasanya dilakukan oleh dua orang perempuan, tanpa ditemani oleh kaum lelaki.

Tradisi ini masih tetap bertahan di tengah-tengah masyarakat Jawa di Sawahlunto. Merupakan salah satu contoh yang baik perihal akulturasi budaya yang terjadi di Kota ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s