RUMAH BM (BARISAN MAUT)

Oleh : Amitri Yulia, SS

 

15. Rumah Barisan Muka

Rumah BM, sekarang sudah tak terawat
Foto: Koleksi MGR

Rumah ini terlihat sederhana dan sudah mulai tua karena dimakan usia. Namun di balik itu tersimpan sebuah peristiwa yang mengerikan bagi orang yang mendengar ceritanya.

Pada masa kolonial Belanda di Sawahlunto, rumah ini  merupakan tempat tinggal seorang pejabat polisi yang bernama Tuan De Priss, yang didirikan pada tahun 1920-an. Ketika Jepang masuk dan menjajah Indonesia (1942-1945) rumah ini diambil oleh Barisan Maut (BM) yang merupakan kelompok pemuda pejuang radikal yang dibentuk di Sawahlunto.

Mereka menjadikan rumah tersebut sebagai markas. Pada masa itu kelompok Barisan Maut bersama pejuang lainnya berencana akan menyerang pasukan Jepang yang berasrama di Gereja Katholik untuk mengambil persenjataan mereka. Akan tetapi karena banyaknya pengkhianatan yang terjadi, menyebabkan banyak pembunuhan dan pembantaian terhadap penduduk kota dilakukan di Rumah ini.

Tidak diketahui secara jelas, fungsi dari rumah tersebut setelah kemerdekaan. Pada tahun 1965, rumah ini dijadikan sebagai basecamp oleh kelompok Partai Komunis(PKI) yang ketika itu sedang gencar memperbanyak anggotanya yang berada di Sawahlunto. Berbagai cara dilakukan oleh anggota Partai Komunis ini untuk merekrut anggota. Salah satunya dengan melakukan pertunjukan kesenian serta bazar di Gedung Pertunjukan Masyarakat (GPM), dan akhirnya berganti nama menjadi Gedung Pertunjukan Karyawan (GPK) yang waktu itu pengunjungnya kebanyakan karyawan dari Perusahaan Tambang Batubara Ombilin.

Sebetulnya nama GPK tersebut memiliki arti tersendiri bagi orang Partai Komunis. Bagi mereka GPK berarti Gedung Pertemuan Komunis, karena di gedung ini mereka merekrut anggota secara tidak resmi. Jadi siapa saja yang datang baik melihat ataupun belanja ke gedung itu langsung di anggap sebagai anggota Partai Komunis walaupun mereka yang datang tidak merasa sebagai anggota.

Pada masa itu masyarakat Kota Sawahlunto sangat takut dengan anggota Komunis. Masyarakat yang tidak mau bergabung di anggap sebagai musuh dan harus dibinasakan. Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang tidak bersalah diculik oleh anggota Partai Komunis. Orang-orang yang diculik oleh anggota partai komunis tersebut di bawa ke rumah BM pada malam hari. Di sana mereka di siksa secara kejam, dan akhirnya mati terbunuh. Setelah itu  mayatnya dibuang ke sungai yang ada di depan rumah.

Penyiksaan tersebut dilakukan pada saat pertunjukan kesenian seperti ronggeng ataupun kuda kepang di Gedung Pertunjukan Karyawan sedang berlangsung. Tujuannya agar masyarakat tidak mengetahui bahwa pada waktu itu sedang berlangsung juga pesta pembantaian yang merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah.

Rumah yang berlantai dua ini, sampai sekarang masih kokoh dan dihuni oleh masyarakat. Karena rumah ini termasuk bangunan lama dan memiliki cerita sejarah, maka pemerintah daerah Kota Sawahlunto, memasukan rumah ini sebagai bangunan cagar budaya yang harus di jaga dan dilestarikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s