Arsitektur Rumah Kolonial di Sawahlunto

Oleh: Kurnia Febra, ST

Salah satu rumah dinas pejabat tinggi pemerintahan Kolonial Belanda di Sawahlunto

Salah satu rumah dinas pejabat tinggi pemerintahan Kolonial Belanda di Sawahlunto
Foto: Koleksi MGR

Kota Sawahlunto yang terletak di daerah pedalaman Minangkabau dengan kehidupan penduduknya yang agraris. Sawah dan ladang penduduk dialiri oleh aliran Batang Lunto.[1] Perpaduan dua nama ‘sawah’ dan ‘lunto’ itu pula yang melekat sebagai nama sebuah kota nantinya, Sawahlunto.

Seiring dengan penemuan batubara oleh de Greve 1868, salah seorang sarjana ahli geologi Belanda. Daerah ini terus menjadi pusat perhatian dan tujuan dari orang-orang Belanda. Tahun 1891 dimulailah aktifitas pertambangan pertama di daerah Sungai Durian.[2] Dengan dimulainya aktifitas pertambangan maka dibangun juga beberapa bangunan infrastruktur  tambang seperti barak-barak atau kampung kuli, kantor administrasi, rumah pejabat perusahan tambang dan beberapa infrastruktur lainnya.

Awalnya bangunan-bangunan yang didirikan oleh Belanda merupakan tiruan yang dibuat persis seperti bangunan yang ada di negeri mereka. Sebuah bangunan tertutup yang dibuat tanpa teras. Seiring dengan proses adaptasi, bangunan berikutnya dibuat dengan memadukan arsitektur kolonial dengan iklim lokal. Bangunan-bangunan ini kemudian dikenal dengan gaya Rumah Hindia (Indische Woonhuis).

68. Rumah tinggi

Salah satu asrama bagi Pegawai Perusahaan Tambang
Foto: Koleksi MGR

Ciri dari sebuah Rumah Hindia adalah bentuk denah yang simetris, mempunyai teras depan dan belakang yang lebar, dan mempunyai atap teritisan yang lebar (Pengantar Panduan Konservasi Bangunan Bersejarah Masa Kolonial, pda-bppi, 2011).

Teras adalah ciri khas dari bangunan tropis, teras yang dinaungi atap mampu menghalangi panas matahari masuk ke dalam rumah sehingga ruang-ruang di dalam rumah tidak terasa panas. Atap teritisan yang lebar juga menghalangi sinar matahari dan curah hujan masuk ke dalam rumah. Rumah Kolonial biasanya dikelilingi oleh halaman yang sangat luas.


[1] Batang merupakan kataganti untuk Sungai dalam perbendaharaan kata-kata orang Minangkabau.

[2] Beberapa sumber menyebutkan bahwa pertambang telah dimulai semenjak tahun 1887. Namun karena ganti rugi tanah yang belum selesai dan belum adanya sarana transportasi yang memadai maka penambangan pertama ini gagal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s