TALEMPONG BATUANG

Oleh : Imelia Wulandari

Foto0098

Talempong Batuang

Talempong adalah salah satu alat musik khas Minangkabau yang telah menjadi salah satu kekayaan budaya nasional. Selama ini jika mendengar kata talempong maka yang terlintas dibenak kita ialah alat musik pukul harmonik yang terbuat dari logam kuningan.  Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa di Minangkabau juga pernah dikenal alat musik yang bernama “Calempong Botuang” atau Talempong Batuang. Alat musik ini memang kalah populer dari alat musik Talempong Basi karena alat musik tersebut lebih dikenal dan dipakai secara luas di Minangkabau.

Talempong batuang, atau oleh masyarakat setempat disebut dengan  “Calempong Botuang” merupakan alat musik yang terbuat dari botuang[1] (dalam bahasa Minangkabau umum: batuang) atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan “Bambu”. Jenis alat musik ini dikenal di salah satu nagari di Minangkabau yakni di Nagari Silungkang yang sekarang merupakan bagian dari wilayah administratif Kota Sawahlunto, Propinsi Sumatera barat. Jadi tidak berlebihanlah kalau dikatakan alat musik Talempong Batuang berasal dari Silungkang. Karena hingga saat ini alat musik jenis ini hanya ditemukan di Nagari Silungkang Kota Sawahlunto.

Pada saat ini di Silungkang hanya terdapat satu keluarga yang mengusai pembuatan dan permainan Talempong Batuang. Mereka ialah Pak Umar dan keluarganya, Pak Umar telah berusia 70 tahunan dan hingga kini masih kuat berkebun di lereng bukit di Desa Silungkang Oso, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto. Pak Umar yang boleh dikatakan sebagai pewaris satu-satunya jenis kesenian ini berasal dari generasi yang lahir di awal abad ke-20. Beliau mewarisi kepandaian membuat dan memainkan Talempong Batuang dari ibundanya. Menurut beliau kaum ibu lebih menguasai alat musik Talempong Batuang karena pada masa dahulu, alat musik ini merupakan permainan yang populer dikalangan anak gadis.

Foto0099

Alat musik talempong merupakan alat musik pukul. Pemukul yang digunakan untuk telempong batuang berbeda bentuknya dengan pemukul untuk talempong basi.

Talempong Batuang dimainkan oleh masyarakat diwaktu senggang, ketika mereka sedang beristirahat di balai-balai, atau sekedar berehat dari rutinitas sehari-hari sebagai petani di dangau[2] yang terletak di pinggir sawah dan ladang. Alunan Talempong Batuang diiringi dengan syair yang mengisahkan mengenai perasaian hidup, cinta kasih yang terpendam, dan lain sebagainya.

Berbicara mengenai Talempong Batuang tidak terlepas dari tradisi marunguih yang juga merupakan salah satu tradisi khas di Silungkang. Marunguih atau Ratok Silungkang Tuo merupakan tradisi yang pada masa dahulu menjadi media penyampaian pesan atau sekedar mengenang nasib bagi masyarakat setempat. Namun pada mulanya tradisi marunguih bukanlah sekedar media penyampai pesan mengenai untung perasaian nasib di kampung atau dirantau. Melainkan memiliki keterkaitan dengan cerita rakyat yang sudah sangat melegenda di seluruh Alam Minangkabau yakni Inyiak atau Legenda Harimau Jadi-jadian.

sumber gambar:

http://palantabudaya.blogspot.com

http://teraszaman.blogspot.com/2012/03/langkah-awal-pengembangan-talempong.html


[1] Botuang, lunto, omuah, merupakan contoh Bahasa Minangkabau dialek Sawahlunto. Sebenarnya yang memakai dialek berlogat “O” ini  tidak hanya masyarakat Sawahlunto melainkan jugaLuhak Tanah Datar dan Luhak Limo Puluah Koto.

.

[2] Pondok (Min)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s