Sang Pengembara..

Mas Gong bersama dua orang staf Museum. Dari Kiri: Erlinda Syamsu, Gol A Gong, dan Mas Kiplik

Mas Gong bersama dua orang staf Museum.
Dari Kiri: Erlinda Syamsu, Gol A Gong, dan Mas Kiplik

Kata Gol A Gong “Sawahlunto ini kota yang mungil dan cantik”

Senin malam, tanggal 3 Juni 2013, Pukul 09. 50 malam di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Kota Sawahlunto.

Senin 3 Juni 2013 ialah permulaan hari yang biasa pada pekan-pekan yang biasa pula. Kami para staf museum melaluinya dengan rutinitas yang biasa, namun agak sedikit sibuk dikarenakan persiapan hendak menyabut peserta Tour de Singkarak (TDS) yang akan singgah ke Sawahlunto pada tanggal 6 Juni nanti.

Tidak ada seorangpun dari kawan-kawan kami yang menyadari, hingga salah seorang kawan kami staf museum bercakap-cakap dengan dirinya di tempat berangin-angin di depan mulut Lubang Tambang Mbah Soero atau tepatnya di belakang Kedai Pical Buk Ya. Dia memperkenalkan dirinya kepada kami sebagai Heri H. Haris. Namun kawan kami langsung tersadar tatkala dia menawarkan Rumah Dunia yang merupakan rumahnya untuk dijadikan sebagai tempat singgah apabila kami pada suatu masa kelak mendapat kesempatan berkunjung ke Banten.

Dia lebih dikenal dengan nama Gol A Gong, seorang penulis yang kreatif dan produktif. Pernah bekerja pada beberapa media ternama di Jakarta hingga memutuskan untuk menetap di kampung tempat ia dibesarkan di Serang. Baru-baru ini dia telah mengeluarkan satu lagi buku yang berjudul “The Gong Traveling”.

Sawahlunto sesungguhnya tidak ada dalam daftar kota yang akan disinggahinya di Pulau Sumatera ini. Namun tatkala melihat plang nama “Selamat Datang di Kota Sawahlunto” dari atas bus, dia terkesiap. Telah lama didengarnya nama kota ini, namun belum sempat jua untuk mengunjunginya. Akhirnya dia turun di Muaro Kalaban, naik ojek ke Pusat Kota Sawahlunto di Lembah Segar.

Datang dari Serang-Banten ke Pulau Sumatera karena hendak menyusuri jejak sang buyut, kakeknda dari ibundanya. Dibuang oleh Belanda sekitar tahun 1930-an ke tempat kerja paksa di Pulau Sumatera. Namun sayang, tak diketahui ke kota mana beliau dibuang. Ke Tambang Gas di Acehkah, perkebunan tembakau di Delikah, Tambang Minyak di Riaukah, Tambang Batubara di Sawahluntokah, Tambang Timah di Belitungkah, atau di tambang-tambang dan perkebunan lainnya yang ada di Pulau Sumatera masa itu. dia tidak tahu..

Mas Gong sedang bercakap dengan salah seorang peminat sejarah di Kota Sawahlunto. Ditemani oleh dua orang staf museum.

Mas Gong sedang bercakap dengan salah seorang peminat sejarah di Kota Sawahlunto. Ditemani oleh dua orang staf museum.

Tidak ada seorangpun di kota ini yang menyadari kehadirannya, hingga salah seorang staf kami berhasil mengenalinya. Selepas bercakap-cakap di Infor Box, Mas Gong (begitulah ia dipanggil) menawari staf kami agar datang menemuinya malam ini di Hotel Laura tempat dia menginap. Mas Gong meminta agar mengajak kawan-kawan, semakin banyak semakin baik. Sebab dia hendak membagikan ilmunya kepada kami.

Begitulah, malamnya selepas Isya pukul delapan malam, tiga orang staf dari Seksi Permuseuman bertemu dengan Mas Gong. Mereka bercakap-cakap di GPK, sebuah gedung tua peninggalan Belanda yang dahulunya berfungsi sebagai tempat hiburan bagi para petinggi Belanda. Cukup lama mereka bercakap-cakap hingga tak terasa malam telah beranjak larut dan jam telah menunjukkan pukul sepuluh lewat.

Esoknya Mas Gong akan berangkat menuju kota tujuan berikutnya yakni Lubuk Linggau di Sumatera Selatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s