RUMAH POTONG HEWAN KOTA SAWAHLUNTO

Oleh: Rosita Cahyani, S.Sos

Tampak Depan dari Bangunan Rumah Potong Foto: Koleksi MGR

Tampak Depan dari Bangunan Rumah Potong
Foto: Koleksi MGR

Bangunan dengan arsitektur Kolonial ini dibangunan pada tahun 1918 seiring dengan pembangunan Dapur Umum dan berfungsi sebagai tempat penyembelihan hewan. Bangunan ini juga lazim dikenal dengan nama Rumah Potong dan terletak berdampingan dengan Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto.

Pada zaman Kolonial Belanda, rumah potong bagian dari komplek Dapur Umum. Hal ini karena fungsinya ialah sebagai penyuplai kebutuhan daging untuk Dapur Umum. Namun seiring dengan berbagai perubahan yang terjadi terhadap komplek Dapur Umum, maka Rumah Potongpun kemudian menjadi bagian yang terpisah dari Dapur Umum. Saat ini, antara Rumah Potong dan Komplek Dapur Umum dipisahkan oleh pagar tembok.

Hingga saat ini, Rumah Potong masih menyuplai kebutuhan daging untuk masyarakat Kota Sawahlunto. Banyak informasi sejarah yang kita peroleh ketika berkunjung ke tempat ini, karena fungsinya sejak zaman Kolonial Belanda tetap tidak berubah.

Bangunan ini sebagian besar terdiri dari tembok bata dengan atap yang terbuat dari seng. Bangunan dengan denah berbentuk huruf ”T” ini dikelilingi oleh pagar tembok dan halaman yang relatif luas dan lapang.

Rumah Potong ini dahulunya memang digunakan sebagai tempat penjagalan sapi. Selain untuk menyembelih sapi, Rumah Potong ini juga digunakan oleh orang Cina (Tionghoa) untuk memotong babi. Pemakaian fasilitas pemotongan hewan ini dibagi atas dua shift. Pada pagi hari orang-orang Cina[1] akan memakai Rumah Potong. Kemudian selepas itu, barulah Rumah Potong ini digunakan untuk menyembelih sapi.

Pada saat sekarang, kondisi Rumah Potong cukup terawat. Hal ini karena terdapat petugas yang bertugas membersihkan setiap harinya. Pada bagian atas ruangan rumah potong dapat kita lihat besi-besi panjang yang berfungsi sebagai rel  untuk memindahkan daging potong. Daging tersebut dipindahkan dengan cara digantung pada sebuah pengait yang kemudian ditarik untuk dipindahkan ke tempat pencucian.

Tampak Belakang dari Komp. Rumah Potong Foto: Koleksi MGR

Tampak Belakang dari Komp. Rumah Potong
Foto: Koleksi MGR

Pada bagian luar dari rumah potong terdapat bak penampungan air. Bak inilah yang digunakan untuk mencuci daging serta membersihkan semua tempat jika proses pemotongan telah selesai.Sedangkan pada bagian ujung bangunan juga terdapat kandang sapi untuk menampung sapi-sapi yang baru datang. Sambil menunggu jatah pemotongan sapi-sapi ini dipelihara di tempat ini

Tepat pada bagian belakang rumah potong ini masih terdapat rumah panggung yang berfungsi sebagai hunian kepala rumah potong pada Zaman Belanda.

Begitulah sekilas keadaan Rumah Potong yang dibangun pada tahun 1918. Disaat beberapa bangunan lama berubah fungsi, namun tidak demikian dengan Rumah Potong, masih tetap dipakai hingga saat ini.

Sumber:

Buku Database Bangunan Cagar Budaya Sawahlunto Tahun 2011

Wawancara dengan beberapa orang narasumber.


[1] Babi yang dipotong biasanya ialah sebanyak 2 ekor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s