Perjalanan “Si Mak Itam”

Oleh : Amitri Yulia, SS

Mak Itam di Stasiun Kampuang Teleng

Mak Itam di Stasiun Kampuang Teleng

Lokomotif Uap Seri E 1060 merupakan loko uap buatan Jerman dan dioperasikan pada tahun 1963. Semenjak produksi batubara di Perusahaan Tambang Batubara Ombilin tidak beraktifitas lagi, maka perkereta-apian di Kota Sawahlunto pun tidak difungsikan. Dari sinilah dimulainya perjalanan “Mak Itam” Lokomotif Uap Seri E 1060 di awali. Loko Uap Seri E 1060, awalnya berada di Sawahlunto untuk mengangkut batubara dari Sawahlunto ke Teluk Bayur, Padang. Pada tahun 1982, loko uap ini dipindahkan ke bengkel besar Balai Yasa, milik PT. KAI di Kota Padang.

Museum Kereta Api di Ambarawa kemudian membawa Loko Uap Seri E 1060 tersebut pada tahun 1996[1] . Pemindahan loko uap dilakukan karena loko uap ini tidak dioperasikan lagi dan hanya tersimpan di bengkel besar Balai Yasa PT. KAI di Kota Padang

Dalam tahun 2008, Pemerintah Kota Sawahlunto sedang giat-giatnya mempromosikan Pariwisata sesuai dengan visi dan misi Kota Sawahlunto, “Mewujudkan Kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya pada tahun 2020”. Mengingat bahwa transportasi Kereta Api sangat berperan dalam pengangkutan batubara di masa Kolonial Belanda, maka Pemerintah Kota Sawahlunto, berniat mengaktifkan kembali Loko Uap seri E 1060 tersebut. Loko ini berbahan bakar batubara, diharapkan kehadiran loko uap ini dapat menjadi salah satu media para wisatawan bernostalgia mengenang masa lalu.

Pengambilan Loko uap E 1060 di Museum Kereta Api Ambarawa, akhirnya mendapat izin. Loko uap dibawa melalui jalan darat dan sampai di Muarokalaban pada tanggal 13 Desember 2008. Setelah diperbaiki, pada tanggal 20 Desember 2008, loko uap ini dioperasikan menuju Kota Sawahlunto. Masyarakat Sawahlunto sangat antusias menyambut kedatangan Loko Uap seri E 1060 ini, mereka bergembira sambil menyebut “Mak Itam Pulang Kampuang” (Mak Itam[2] Pulang Kampung).

Launching Mak Itam dilakukan pada tanggal 21 Februari 2009, yang ketika itu dihadiri oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Gubernur Sumatera Barat, Walikota dan Bupati se-Sumatera Barat, Pecinta Kereta Api, Artis Ibukota Jakarta serta seluruh kalangan masyarakat di Kota Sawahlunto. Loko Uap ini mulai dioperasikan untuk umum pada tanggal 1 Maret 2009, dengan membawa gerbong kereta yang terbuat dari kayu. Gerbong ini merupakan gerbong buatan tahun 1921. Perjalanan wisatanya di mulai dari Stasiun Kereta Api Sawahlunto di Kampung Teleng (Pusat Kota) menuju Stasiun Kereta Api di Muarokalaban. Rute Kereta Wisata ini melayani pulang-pergi selama 1 jam. Semenjak itu, Mak Itam menjadi semakin terkenal di Sumatera Barat maupun di luar wilayah Sumatera Barat.

Peran Mak itam sebagai kereta wisata tidak hanya itu saja, pada bulan Juni tahun 2010, Mak Itam dipergunakan untuk membawa para pembalap sepeda pada event Internasional Tour de Singkarak di Kota Sawahlunto. Pada tahun 2012, Mak Itam mulai berulah, sering mogok karena umurnya yang telah tua. Walaupun kondisi Mak Itam sudah tidak stabil lagi, namun Mak Itam ini tetap menjadi perhatian bagi wisatawan yang suka menaiki kereta api.[3]

Pengoperasian Mak Itam bukanlah perkara mudah karena membutuhkan waktu hingga paling sedikit ialah 4 jam untuk menghidupkan mesin mak itam. 1 kali perjalanan PP, mak itam membutuhkan batubara sebanyak 1 ton, dan air lebih kurang 10 kubik. Jika Mak Itam bermasalah lagi, masinis membutuhkan waktu 6 jam untuk menghidupkan kembali mesin Mak Itam.[4]

Nah, bagi yang sudah pernah naik Mak Itam jangan kapok lagi ya..! dan bagi yang belum pernah naik dan melihat Mak Itam, ayo datang ke Museum Kereta Api Kota Sawahlunto setiap hari Minggu, tapi harus dikonfirmasikan dulu agar Mak Itamnya dapat dikondisikan dengan baik.


[1] Wawancara dengan Nurna.

[2] Mak Itam ialah sebutan untuk “Kereta Api” bagi masyarakat Minangakabu masa dahulu. Panggilan ini sangat populer pada Masa Kolonial hingga masa-masa akhir Dunia Perkerata Apian di Sumatera Barat. Sebab semenjak masa Orde Baru, transportasi kereta api dihapuskan dan hanya melayani rute untuk membawa batubara dari Kota Sawahlunto.

[3] Wawancara dengan Nurna.

[4] Wawancara dengan Erlinda Syamsu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s