Kenangan salah Satu Keluarga Belanda

Ini merupakan kisah yang terjadi pada tahun 2013 silam, eloklah kiranya kita simak bersama. Semoga menambah kecintaan kita kepada kota tercinta ini.

Lembah Segar - Pusat Kota Sawahlunto

Lembah Segar – Pusat Kota Sawahlunto
Foto Diambil dari Puncak Soegai (Puncak Polan)

Hari Selasa, 19 Maret 2013

Pada pukul tiga lewat kami kedatangan tamu dua orang warga negara Belanda, mereka ialah pasangan suami isteri Leendert dan Rose Kranen Donk. Kedua orang turis ini menginap di Hotel Ombilin yang merupakan hotel tertua di Sawahlunto. Mereka datang ditemani oleh Bapak Indra Yosef, salah seorang warga Sawahlunto.[1] selain itu juga ikut dua orang staf dari Kantor Dinas Pariwisata yakni Yoni Saputra, SS dan Doni Fitra, SS.

Sebelumnya kami telah mendapat kabar dari Bapak Yonni perihal kedatangan dua orang turis ini. Dari kami pihak museum yang menerima kedatangan mereka ialah tiga orang staf yakni, Yuristya Mega, SS. Amitri Yulia, SS. dan Fakhri, SS.

Bapak Indra Yosef menjelaskan kepada kami bahwa Meneer Leendert datang ke Sawahlunto untuk bernostalgia mengenang masa lalu. Sebab ibunda beliau merupakan kelahiran Kota Sawahlunto, rumah kelahiran ibunda beliau terletak di dekat Pom Bensin PT. BA di Kawasan Saringan. Sedangkan kakeknya merupakan perancang dari Power Plant Kubang Serakuk.

Pada tahun 1939, saat ibundanya berusia 14 tahun beliau berangkat dari Sawahlunto menuju Negeri Belanda. Alasan keberangkatan ibundanya ke Belanda karena telah pecah perang dunia ke dua. Semenjak saat itu, ibunda beliau tidak pernah lagi datang ke Sawahlunto. “She still miss Sawahlunto..” kata Meneer Leendart.

“Why..?” tanya kami.

“Because Holland was cool, not like here..” jawab beliau.

“Oh.. yes, there was four season and here we just have two seasons..” jawab kami.

Meneer Leendert dahulu pernah datang ke sini pada tahun 1999, ketika itu ayahanda beliau berpesan agar mencari saudaranya yang bernama Indra Yosef di Sawahlunto. Kedatangan yang sekarang ialah kedatangan kedua atau ketiga kalinya. Selepas dari Sawahlunto beliau beserta isteri berenca hendak pergi ke Bukittinggi mengunjungi saudara beliau di Kapau.[2] Nama saudara beliau ialah Hervina Harmyn yang merupakan guru Bahasa Inggris pada Harmyn English Institute di Kapau.

Menurut Meneer Landert, kakek beliau bukan hanya merancang pendirian Power Plant namun juga berbagai fasilitas yang terdapat di Kota Sawahlunto seperti fasilitas pertambangan.

Beliau juga menyebutkan bahwa ibu dari neneknya dari fihak perempuan merupakan orang Minang di Padang. Ketika kami tanyakan kampung asal dari nenek buyut beliau, beliau tak dapat menyebutkan karena tidak tahu. Dalam kenangan beliau sang nenek selalu mengaku orang Minang.

Sedangkan isteri beliau yang memiliki wajah oriental karena berasal dari keturunan Cina mengatakan kalau neneknya dari fihak ibu merupakan orang Minang di Padang. Ketika kami tanya kampung asal neneknya, beliau mengatakan “Hm.. I ask my mother in Holland..”.

Kami coba tanya kepada Meneer Leendert nama dari kakek beliau, beliau mengatakan kepada kami kalau nama kakek beliau ialah Christiaan Reinier de Heer dan nama nenek beliau ialah Thevvenet de Heer. Namun itu nama beliau di Belanda, ketika datang ke Indonesia nama tersebut mereka tukar dengan alasan sedang ada perang.

Hari Rabu, 20 Maret 2013

Pada hari ini kami memiliki janji temu dengan Meneer Landert, Ros, dan Pak Indra di Hotel Ombilin. Namun sayang karena sedari pagi hingga tengah hari ini hujan masih turun maka kami tak dapat memenuhi janji. Karena kami yang tak dapat datang maka merekalah yang mendatangi kami kembali ke museum. Mereka datang pada pukul setengah dua belas, setengah jam menjelang tengah hari.

Kami menjamu mereka di Perpusatakaan Museum Goedang Ransoem. Pada kesempatan ini juga ikut menemani kami wawancara ialah Ibu Kurnia Febra yang merupakan Kasi Permuseuman[3] serta dua orang staf museum yakni Ibu Rosita Cahyani dan Sevly Eka Putri.

Di cuaca yang gerimis dan sedikit lembab ini kami berbincang-bincang dengan Meneer Leendert dan Rose yang ditemani ditemani oleh Pak Indra. Mevrouw Rose menjelaskan kepada kami bahwa sebenarnya mereka telah memberikan beberapa foto yang berkenaan dengan keluarga mereka pada masa lalu di Sawahlunto kepada Bapak Indra Yosef. Beliau menyarankan agar kami menghubungi Pak Indra saja.

Mevrou Rose berjanjikan akan mengusahkan mencari dan bertanya kepada orang tua dan mertuanya perihal Sawahlunto. Untuk itu beliau telah meninggalkan alamat emailnya.

Pembicaraan kamipun berkisar ke hal yang ringan-ringan, seperti Mevrouw Rose yang sampai usia lima tahun tinggal di Indonesia. Kemudian pada peristiwa meletusnya PKI, beliau beserta orangtuanya pindah ke Belanda. Pertemuannya dengan Meneer Leendert ialah karena dicomblangi oleh kawan mereka dalam “kencan buta” (blind date). Itulah awal dari kisah mereka berdua. Dua orang anak mereka tinggal di Australia, jadi kepulangan mereka ke Indonesia sambil menengok anak mereka di Australia.


[1] Beliau adalah salah seorang wartawan senior di kota ini

[2] Sebuah nagari di dekat Kota Bukittinggi

[3] Yang menjabat sebagai Plt. Kabid Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s