Kawasan Silo

Oleh: UIZ, ST

Kawasan Silo sebelum pembangunan Food Court. Dilihat dari atas Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto. Foto: Koleksi Museum

Kawasan Silo sebelum pembangunan Food Court. Dilihat dari atas Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto.
Foto: Koleksi Museum

Akhir kejayaan tambang Batubara di Kota Sawahlunto meninggalkan banyak kenangan. Mulai dari tradisi budaya hingga bangunan fisik. Kedua aspek tersebut menjadi warisan yang tidak terlupakan bagi sejarah Kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang.

Tradisi budaya masyarakat Kota Sawahlunto masih bertahan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari bahasa,[1] atraksi budaya, hingga budaya multi-etnis. Berbeda dengan bangunan, banyak bangunan bekas fasilitas tambang yang tidak berfungsi (terbengkalai). Hal ini bukan disebabkan oleh kekurangan atau ketiadaan sumberdaya manusia, tapi diakibatkan oleh sebuah perjalanan. Dimana ada awal maka tentulah ada akhir. Terbengkalai mungkin salah satu akhir dari sebuah bangunan.

Sejak produksi Batubara  PT. BA-UPO mulai menipis, dan akhirnya dihentikan pada tahun 2003, saat itu pulalah berbagai bangunan fasilitas pertambangan batubara tidak difungsikan lagi. Kawasan strategis seperti Kawasan Sizing Plant dan Silo yang merupakan bagian dari proses pertambangan pun menjadi mati. Pengelolaan bangunannya pun menjadi mahal, karena banyak bangunan berukuran besar, dimana sebagian tidak bisa berubah fungsi, dan apabila dikelola dan dipelihara akan terjadi pembengkakan biaya pemeliharaan. Hal ini ditambah lagi dengan tidak adanya pemasukan dari produksi tambang PT BA-UPO.

Beberapa bangunan masih berdiri megah di kawasan Sizing Plan dan Silo, seperti Gedung Transport, Bengkel Utama, dan Silo itu sendiri. Menjadi saksi bisu dari kejayaan Tambang Batubara di Kota Sawahlunto. Sekarang, bangunan-bangunan yang tersisa berusaha bercerita perihal akhir perjalanan sebuah kota yang dahulu menggantungkan hidupnya pada  pertambangan.

Pemerintah Kota Sawahlunto telah menetapkan Visi dan Misi Kota Sawahlunto yakni; menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya. Oleh sebab itu, kawasan terbengkalai di tempat strategis merupakan nilai minus bagi sisi kepariwisataan. Apalagi semenjak tahun 2010, kawasan Silo menjadi tempat pembuangan material sisa pembangunan. Hal tersebut mengakibatkan turunnya kualitas lingkungan pada kawasan ini.

Pada Tahun 2012 mulailah muncul wacana untuk mengelola Kawasan Silo dan Sizing Plant. Dimana sebelumnya, gedung transport telah dimanfaatkan untuk perkantoran yang ditempati oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Badan Pemadam Kebakaran Kota Sawahlunto.

Perencanaan pengelolaan menghasilkan fungsi kawasan baru, yaitu sebagai salah satu taman kota. Dimana nantinya kawasan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pusat kegiatan budaya dan aktifitas masyarakat, dan yang paling penting adalah sebagai ruang terbuka hijau (RTH) Kota Sawahlunto. Realisasi perencanaan tersebut direspon Pemerintah Kota dengan membangun foodcourt, plaza dan panggung pertunjukan.

Foodcourt di Kawasan Silo dan Sizing Plant dibangun menggunakan struktur teknologi modern, yakni menggunakan prinsip struktur-membran.[2] Foodcourt sendiri berada ditengah area Kawasan Silo dan Sizing Plant. Walaupun berada di tengah kawasan, Foodcourt tidak begitu dominan diantara bangunan sekelilingnya. Karena prinsip dasar dikembangkannya Kawasan Silo dan Sizing Plant ialah tidak mengesampingkan bangunan yang telah ada (bangunan cagar budaya). Keberadaan Foodcourt justru membawa pengunjung pada pemandangan pada Bangunan Silo yang terdiri atas tiga tabung raksasa, pada sisi bagian belakang dan kemegahan Sizing Plant pada sisi lainnya. Area Food Court memiliki luas± 650 m­2 dan telah dilengkapi dengan fasilitas kantin serta kios sebanyak 15 unit.

Plaza berada di sisi kanan foodcourt. Plazadibuat menggunakan gabungan pasangan paving blok, dan kemudian diwarnai dengan cat bermotifkan warna papan catur. Warna papan catur menegaskan kesan kaku namun bersifat atraktif sehingga tidak terlihat monoton. Hal ini sangat berbeda dengan pasangan paving blok pada plaza.

Pada sisi luar dan keliling plaza, menggunakan pasangan grass block. Grass blok adalah sejenis paving blok yang memiliki lubang-lubang beraturan dan nantinya digunakan sebagai kisi-kisi tanaman rumput. Penggunaan Grass blok bertujuan agar pasangan paving terlihat tidak terlalu masif, sehingga pesan ruang terbuka hijau (RTH) kota masih terakomodir.

Kawasan Silo Sekarang

Kawasan Silo Sekarang

Secara kawasan plaza ini berfungsi sebagai penyatuan tarafood court dengan panggung pertunjukan. Serta secara ruang plaza berfungsi sebagai ruangan tempat menonton jika ada pertunjukan menggunakan panggung pertunjukan (amphi theater). Luas plaza ini adalah± 440 m. Plaza ini telah digunakan oleh Sekolah Beladiri untuk berlatih rutin.

Beralih ke Panggung Pertunjukan. Panggung Pertunjukan berukuran 9×6 m2 ini menggunakan struktur besi sebagai kaki dan papan dengan tebal 4cm sebagai lantai. Penggunaan struktur besi pada panggung pertunjukan mengibaratkan bahwa panggung tersebut masih merupakan satu kesatuan dengan bangunan di belakangnya yakni, Bangunan Sizing Plant dan Struktur Belt Conveyor/ rel penghubung dari Sizing Plant ke Silo. Selain itu Panggung Pertunjukan bertujuan untuk “menyimpan” bukti-bukti adanya rel kereta api di bawahnya. Jadi tanpa membongkar bangunanpun rel kereta api masih bisa terlihat. Sedangkan penggunaan bahan papan tebal 4 cm bertujuan sebagai fungsi peredam bunyi kalau pengunjung atau pengguna panggung berloncat-loncatan.

Sebagai Ruang Terbuka Hijau, Kawasan Silo dan Sizing Plant pastinya di dominanasi oleh tumbuhan. Kemudian bagian-bagian kawasan yang belum bisa dikelola ditanami rumput, sehingga walaupun telah berdiri beberapa bangunan, kesan hijau kawasan masih terlihat. Di Kawasan ini jugalah terdapat perpaduan antara kemajuan teknologi dari zaman kezaman, keberadaan bangunan bisa mewakili kejayaan di zamannya masing-masing.

Kedepannya, Kawasan Silo dan Sizing Plant digunakan masyarakat dan muda-mudi untuk ber”sharing community”. Karena Kawasan Lapangan Segitiga[3] sebagai Ruang Terbuka Hijau telah berfungsi sangat berat dan diperkirakan tidak bisa lagi menampung keberadaan jumlah pengunjungnya. Sebagai penopang Kawasan Lapangan Segitiga, Kawasan Silo dan Sizing Plant sebenarnya telah terhubung dengan adanya jalan pedestrian,[4] namun keberadaannya belum diketahui oleh masyarakat.

Pada penghujung akhir tahun 2013, Kawasan Silo dan Sizing Plant telah digunakan untuk acara seperti Festival Wayang, Lomba Burung Berkicau dan yang terakhir ialah acara Sawahlunto Internasinal Music Festival (SimFEST). Acara tersebut terakomodir oleh Kawasan Silo dan Sizing Plant yang dinilai sukses dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan. Dengan kesuksesan beberapa acara tersebut, berarti sudah saatnya Kawasan Silo dan Sizing Plant dijadikan sebagai salah satu objek wisata baru di Kota Sawahlunto, baik untuk daerah Kota Sawahlunto sendiri maupun pengunjung dari luar daerah.

Narasumber :

Axis Citra Pama, ST

Kepala Seksi Perencanaan Kepariwisataan

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto


[1] Bahasa Khas Sawahlunto ialah Bahasa Tangsi yang merupakan percampuran Bahasa Minang, Melayu, Jawa, Cina, dan Sunda

[2] Seperti ketika kita hendak membuat sebuah tenda apabila pergi camping, ketika membuat tenda maka kita akan menarik tali supaya dapat meregangkan tenda sehingga dapat dimasuki. Prinsip serupa itulah yang dipakai, yakni meregangkan yang dengan bahasa lainnya ialah prinsip struktur membran.

[3] Lebih dikenal dengan nama “Lapseg” ikalangan masyarakat Sawahlunto. Lapseg merupakan akronim dari Lapangan Segitiga.

[4] Jalan untuk pejalan kaki

2 pemikiran pada “Kawasan Silo

  1. Ping balik: Terkenang akan.. | Catatan St.Nagari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s