Bukan Sekedar Berburu

(Sebuah Folklor dan Tradisi Bagi Kearifan Lokal Dari Nagari Tak Boncah Kota Sawahlunto)  

By: Y/S-135

Berburu ilustrasi-sumber-kudakhatulistiwa_files_wordpress-com-trace-with-corel-x5.jpg

Berburu
Ilustrasi Gambar: kudakhatulistiwa_files_wordpress-com-trace-with-corel-x5.jpg

Beburu[1] boleh jadi salah satu aktivitas tertua dimuka bumi yang dilakukan manusia dan terus ada hingga sekarang. Bagi masyarakat Nagari Tak Boncah di Kota Sawahlunto Sumatera Barat, aktivitas berburu rusa atau sarat dengan nilai-nilai lama (kearifan lokal) dalam hubungannya antara manusia dengan alam serta manusia dengan manusia.

Sebelum memasuki hutan dimana ativitas berburu akan dilakukan, terlebih dahulu sekelompok pemburu menuju sebuah goa (dalam bahasa setempat; ngalau) yang terdapat diatas perbukitan Nagari[2] Tak Boncah. Disana akan dilangsungkan ritual yang disebut mangalangsiang.

Semua peralatan berburu seperti; parang, anjian, pisau  dan rajuik (perangkap rajutan) dikumpulkan. Seorang Tuo Buru (tetua) mengasoki (mengasapi) semua peralatan dan daerah perburuan dengan rokok kumayan putiah (Kemenyan Putih) sambil membacakan  do’a dan jampi-jampi mantra untuk keselamatan dan hasil yang berkah.

Wilayah perburuan kemudian ditetapkan, disebut dengan empat rajuik (rajut) dan dua anjing. Artinya setiap sudut telah dijaga dan dipasang rajut sebagai perangkap bagi buruan. Bila peralatan berburu hanya berupa peralatan seperti rajut, maka pemburu harus berupaya manyiriang atau mengarahkan binatang buruan ke perangkap dengan cara batuk-batuk.

Rusa atau kijang yang baru saja didapat tidak boleh langsung dipotong (disemblih) oleh anggota pemburu yang pertama kali mendapatinya baik dalam keadaan terperangkap atau dilumpuhkan oleh anjing. Semua anggota pemburu harus ditunggu hingga berkumpul. Bila rusa masih dalam keadaan hidup dan cukup segar, sambil menunggu pemburu yang lain berdatangan, hal yang mungkin dilakukan untuk mencegah supaya rusa atau kijang tidak bangkit dan lari adalah dengan memotong urat di kaki rusa atau kijang.

Setelah semua anggota berkumpul, hasil buruan segera disembelih. Sebagai wujud terima kasih kepada penghuni hutan sebagai tukang gubalo ruso (pengembala rusa/kijang).[3] Maka diberilah persembahan yang diambil dari bagian kulit si salo kuku dan telinga rusa/kijang lalu dibungkus dengan dedaunan.  Sambil berkata-kata, Seorang Tuo Buru atau salah satu anggota buru yang dapat memerankan prosesi persembahan ini akan membawa bungkusan persembahan untuk diselipkan diantara pepohonan kayu hutan.

Salah satu Pesona  kawasan persawahan di Nagari Tak Boncah Foto: Koleksi MKR

Salah satu Pesona kawasan persawahan di Nagari Tak Boncah
Foto: Koleksi MGR

Apa yang diucapakan seorang Tuo Buru saat meletakkan pesembahan itu, tidaklah boleh terdengar oleh anggota buru lainnya, akan tetapi untuk ucapan yang ketiga kalinya akan terdengar hanya kata  “Ooooooooooo…..” nya saja.

Adapun dengan pembagian hasil buruan didasarkan pada hal-hal berikut;

  1. Pemilik rajuik (rajut) yang memerangkap binatang memperoleh jatah pangga (paha kanan). Atau dalam hal ini bagi yang pertama kali mamatah maka akan mendapatkan pangga (paha kanan) seperti anjing, alat berburu seperti pistol atau Tuo Buru.
  2. Anjing yang pertama kali menyalak dan melihat binatang buruan mendapatkan kapalo kudan (tanduk)
  3. Sedangkan anjing yang kedua mendapatkan ikua kudan (ekor)
  4. Tuo buru mendapatkan ampulu (jantuang)

Setelah semua anggota buru memperoleh jatah sesuai perannya, kemudian sisanya dibagi sama banyak. Masih ada orang lainya yang menjadi bagian yaitu; Disaat buruan terperangkap dalam rajut atau telah dilumpuhkan, namun  anjing tetap terus menyalak, sehingga menarik perhatian  orang lain untuk datang ketempat itu. Orang yang datang sekedar manjanguak (melihat) tersebut juga mendapatkan pembagian daging rusa atau kijang.

Aktivitas berburu pada prinsipnya dapat saja dilakukan setiap hari di Nagari Tak Boncah Kota Sawahlunto. Namun demikian, mereka juga meyakini bahwa ada hari baik atau terbaik diantara hari-hari yang baik itu.

Karena itu pula mereka meyakini bahwa bila berburu dihari Senin dianggap rasaki maut atau rezeki langka. Apabila berburu pada hari ini memperoleh binatang buruan, maka pada hari Rabu kembali dilakukan berburu, yang disebut dengan manigo hari (hari ketiga). Bila di hari ketiga ini didapatkan juga hasil buruan, maka berburu dilanjutkan dengan manujuah hari  (berburu hari ke tujuh).

Adakalanya saat pemburu pulang dari hutan sambil memanggul hasil buruannya dan melewati perkampungan. Kemudian dilihat oleh orang kampung, maka para pemburu tidak akan menawarkan hasil buruannya tesebut. Akan tetapi sudah menjadi tradisi, kalau mau merasakan daging rusa/kijang hasil buruan mereka, boleh mengambil sakalimpiang (sepotong atau seirisan) daging yang sedang dipanggul para pemburu tersebut. Para pemburu itu juga tidak akan mengelak atau melarang. Sebab dengan merelakan sakalimpiang daging tersebut mereka meyakini akan murah rezekinya, apalagi saat kembali berburu nanti, akan mudah bagi mereka untuk memperoleh hasil buruan.

Pasar Nagari Tak Boncah Foto: Koleksi MGR

Pasar Nagari Tak Boncah
Foto: Koleksi MGR

Terdapat beberapa pantangan bagi para pemburu di Nagari Tak Boncah yang harus menjadi perhatian, yaitu:

1. Setelah rusa/kijang dibantai (sembelih), tapi belum di bagi-bagikan; bila tampak, terdengar hal yang tidak lazim atau aneh, maka orang yang menyaksikan atau mendengarkan tidak boleh bereaksi dengan menyapa (berkata-kata) sendiri atau mengungkapkannya pada orang lain. Apabila itu terjadi maka orang yang melakukan itu akan mengalami jumbalang atau sakit dalam waktu yang lama (berkepanjangan).

2. Pada saat menyembelih rusa hasil buruan, siapapun tidak boleh berjalan melintas di bagian kepala buruan. Hal ini dipercayai dapat menyebabkan orang tersebut akan terkena penyakit, bahkan anjing pun bisa mengalami kematian.

3. Saat  menemukan binatang buruan yang sudah dilumpuhkan baik dengan perangkap rajut, anjing, tombak , parang atau senapan mesin pemburu. Tidak boleh mengatakan kata; ko nyo ha……. atau ikonyo ha……..[4] Ucapan dan teriakan seperti itu diyakini memberikan energi dan obat bagi binatang buruan sehingga dapat bangkit dan kembali berlari. Ada cara lain untuk memberi tahu dan mengabari teman-teman pemburu lainnya dengan berkata atau bersorak dan berteriak: Oiiii…. tolonglah, lah tabedo den atau tolong den……![5]

4. Kalau ada buruan yang lari setelah dilumpuhkan, harus di kejar sampai kembali ditangkap (sampai terbenam matahari). Bila tidak berhasil, atau mati lalu membusuk. Maka 3 bulan kedepan apabila dilakukan aktivitas berburu, tidak akan mendapatkan binatang buruan.


[1] Perburuan atau berburu adalah praktik mengejar, menangkap, atau membunuh hewan liar untuk dimakanrekreasiperdagangan, atau memanfaatkan hasil produknya (seperti kulit, susu, gading dan lain-lain) sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Perburuan

[2] Nagari ialah unit pemerintahan terendah di Sumatera Barat. Sering kali disamakan dengan Pemerintahan Desa, walau sesungguhnya berbeda.

[3] Bagi masyarakat pemburu hewan liar seperti rusa, kijang di hutan/rimba Nagari Tak Boncah, mereka meyakini bahwa binatang liar di alam bebas itu tetap ada pemilik dan pemiliharanya yang mengembalakan meski tidak pernah diketahui, dilihat atau ditemukan wujudnya seperti apa?

[4] Ini dia..

[5] Oi.. tolonglah saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s