Roemah Komidi Sawahlunto

Oleh : Amitri Yulia

Gedung Pegadaian Kota Sawahlunto Dok.Foto: KPBP

Gedung Pegadaian Kota Sawahlunto
Dok.Foto: KPBP

Cagar Budaya merupakan warisan budaya yang bersifat kebendaan, yaitu berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.[1] Bangunan yang dapat dikatakan sebagai cagar budaya haruslah memiliki kriteria. Adapun kriteria dari bangunan tersebut telah berusia 50 tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.[2] Dengan adanya kriteria Cagar Budaya tersebut, maka salah satu bangunan lama yang sekarang dijadikan sebagai Kantor Pegadaian yang terdapat di Kota Sawahlunto, termasuk ke dalam Bangunan Cagar Budaya yang harus dilestarikan.

Bangunan Pegadaian ini dibangun oleh Sian Seng Wong A Lan pada tahun 1817 dengan nama “Roemah Komidi”.[3] Pada zaman Belanda, bangunan ini dijadikan sebagai tempat hiburan komedi. Tujuannya untuk menghibur para pekerja tambang batubara Ombilin.[4]

Pertunjukan komedi pada masa Kolonial Belanda dikenal dengan komedi stambul (berasal dari kata istanbul) yaitu suatu pertunjukan yang menggabungkan drama lama dan baru dari kebudayaan Cina, India, Melayu dan Eropa. Musik yang mengiringi pertunjukan ini menggunakan alat musik tradisional dan Eropa. Komedi ini dipertunjukkan dengan Bahasa Melayu. Cerita-cerita yang ditampilkan melalui komedi diambil dari kisah-kisah tradisional romantis “Pangeran Panji”, cerita Timur Tengah seperti “Ali Baba, Sinbad, Cerita Seribu Satu Malam”, cerita Eropa seperti “Pedagang dari Venesia” atau kisah kontemporer[5] mengenai para Nyai Batavia. Komedi istanbul pada saat itu sangat disukai oleh para pekerja, sementara kelompok cendikiawan modern cenderung merendahkan tontonan ini.[6]

Pada tahun 1901, pemerintah Kolonial Belanda mendirikan sebuah lembaga gadai di Sukabumi, Jawa Barat. Misi lembaga gadai ini untuk membantu masyarakat dari jeratan para lintah darat melalui pemberian uang pinjaman dengan hukum gadai.[7]Pengaruh lembaga gadai tersebut masuk ke wilayah Sawahlunto, di mana masyarakat Sawahlunto kebanyakan bekerja sebagai buruh tambang batubara Ombilin yang kadang-kadang juga membutuhkan wadah untuk meminjam uang apabila sedang kekurangan. Tidak tahu kapan pastinya roemah komidi ini dijadikan sebagai rumah gadai. Namun semenjak adanya lembaga gadai pada tahun 1901, gedung tersebut berubah fungsi dari tempat hiburan komedi menjadi rumah gadai.

Setelah kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah, bangunan ini telah banyak mengalami peralihan fungsi. Bangunan ini pernah dijadikan sebagai Museum Koleksi Pribadi dan Kantor Bank BRI. Saat masih ditempati BRI, gedung dengan arsitektur Indische ini mengalami kebakaran di tahun 2008. Setelah dilakukan rehabilitasi tahun 2011 gedung ini kembali menjadi Kantor Pegadaian sampai sekarang.

 

 

 

[1]Undang-undang No 11 tahun 2010 tentang cagar Budaya Bab.1 Pasal.1 Ayat.1

[2] Undang-undang No 11 tahun 2010 tentang cagar Budaya Bab. 3 Pasal.5 Ayat.1

[3] Roemah Komidi merupakan ejaan bahasa Indonesia lama yang berarti gedung tempat pertunjukan komidi (sandiwara)

[4]  Data Base Cagar Budaya Kota Sawahlunto Tahun 2013. Kantor Peninggalan  Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto 2013 (Bab

3, hal 38)

[5] Kontemporer menurut masa itu

[6]  www.anneahira.com. Sejarah Seni Budaya Indonesia pada Masa Kolonialisme Belanda

[7]  Blog.ekdien_cherry. Sejarah pegadaian Secara Umum dan Khusus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s