Menyadari Potensi yang Ada

Identifikasi Dan Inventarisasi Sebagai Upaya Menghimpun Potensi Kebudayaan Masyarakat Nagari Dan Multikultur Sawahlunto

Oleh : Y/S-135

Hari ini, bila Anda ingin memperoleh informasi dan data yang representatatif untuk menggambarkan potensi sejarah dan kebudayaan Sawahlunto, dimana Anda bisa peroleh?

Jawabannya tentu akan beragam dengan masing-masing metode dan argumentasinya bagaimana dan dimana didapatkan. Dalam pikiran saya untuk sebuah efektifitas, kenapa tidak pada lembaga atau institusi yang mempunyai ruang lingkup dan tugas yang menangani persoalan-persoalan kebudayaan. Setidaknya disana terdapat informasi dasar atau bahkan data base kebudayaan Sawahlunto yang cukup bahkan lengkap.

Urusan kebudayaan memang adalah tanggungjawab semua elemen baik masyarakat, pemerintah, bahkan dunia swasta di Kota Sawahlunto. Kota ini sendiri, setidak-tidaknya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota Sawahlunto yang bersentuhan langsung dengan urusan kebudayaan – yang diantaranya; Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga dan Bagian Kesejahteraan Masyarakat di Setdako Sawahlunto – kesemua lembaga tersebut tentunya memiliki ruang lingkup tugas dan fungsi pokoknya masing-masing.

Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto yang kehadirannya relatif baru dalam tahun 2013 lalu, memiliki tugas dan fungsi pokok yang salah satu diantaranya; melakukan kegiatan penelitian dan pengkajian bidang sejarah  dan kebudayaan Sawahlunto. Sebagai langkah sistematis dan terstruktur tentu ada baiknya bila hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Kota Sawahlunto dapat teridentifikasi dan terinventarisasi baik berupa benda berwujud (Tangible) maupun benda tak berwujud (Intangible) seperti persoalan nilai-nilai dalam sebuah masyarakat.

Berada dalam wilayah kultur besar yakni Kebudayaan Minangkabau, Kota Sawahlunto tentu tidak terlepas dari empat persoalan adat Minangkabau yaitu; 1) Adat nan sabana adat; 2) Adat nan di adatkan; 3) Adat nan teradatkan; 4) Adat istiadat. Keempat macam adat itu dapat dikelompokan kedalam dua bagian; 1) Adat nan babuhua mati adalah adat sabana adat dan adat diadatkan; 2) Adat nan babuhuasintak adalah adat teradat dan adat istiadat (Adat Salingka Nagari)[1]. Kompleksitas, keberagaman kultur Minangkabau dalam setiap nagari-nagari lebih tampak dari filosofi Adat Salingka Nagari, dimana setiap nagari memiliki ciri khas dan karakternya sendiri dalam bingkai Kebudayaan Minangkabau.

Pastinya penjelasannya tentu tidak sesederhana itu, bila mengikuti apa yang dikemukakan Koentjaraningrat tentang tiga wujud kebudayaan. Pertama wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, atau norma. Kedua wujud kebudayaan sebagai aktifitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat. Ketiga wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Koentjaraningrat selanjutnya mengemukakan tujuh unsur universal kebudayaan yaitu; bahasa, kesenian, sistem religi, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, dan sistem ilmu pengetahuan. Sebagai unsur kebudayaan universal, unsur-unsur ini selalu ada pada setiap masyarakat dan ketujuh unsur tersebut dapat diperinci lagi menjadi sub unsur hingga beberapa kali menjadi lebih kecil. Ketujuh unsur tersebut sudah pasti menjelma dalam tiga wujud kebudayaan.[2]

Meski Sawahlunto telah  mengalami berbagai perubahan adminstratif pemerintahan dari era Kolonial Belanda hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia sampai sekarang. Namun demikian, nagari sebagai wilayah kultur Minangkabau dengan kebudayaannya tidak serta merta hilang dan terhapuskan begitu saja dalam memori kolektif masyarakat daerah ini. Terutama nagari-nagari yang ada di Kota Sawahlunto, nagari-nagari tersebut diantaranya; Nagari Silungkang, Tak Boncah, Kubang, Lunto, Lumindai, Kajai, Talago Gunuang, Kolok, Sijantang, Talawi.

Lebih jauh untuk menghimpun berbagai potensi kebudayaan di nagari-nagari Sawahlunto, kehadiran Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto diharapkan juga dapat mengambil perannya melalui berbagai kegiatan penelitian dan pengkajian. Sehingga dengan itu berbagai data dapat terhimpun dan terkelola sebagai bahan informasi, rujukan berkenaan potensi kebudayaan masyarakat di nagari-nagari ditambah dengan kebudayaan multi-kultur dari etnik yang beragam yang berada di Kota Sawahlunto.

 

[1] Disarikan dari: Boy Hendra Tamin Dt. Suri Dirajo, SH, MH., Antara Adat Minangkabau dan Hukum Adat Minangkabau., http://boyyendratamin.blogspot.com. Diakses, Rabu, 05 Maret 2014.

[2] Diolah dari: http://dirarahimsyah.blogspot.com. Diakses tanggal 24/02/2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s