Kami di Museum

 

Aktivitas Kami di Museum

Kawan-kawan dari bagian Konservasi dan Preparasi sedang melakukan perawatan terhadap salah satu koleksi.

Seringkali beberapa orang kawan bertanya kepada kami para staf museum “Sebenarnya apa saja kerja kalian di museum?” ketika mendapat pertanyaan semacam itu biasanya kami tanggapi dengan senyuman lalu menjawab “Banyak engku, macam-macam kerja kami tidak hanya memandu turis ataupun merawat koleksi dan barang-barang kuno yang dipamerkan di museum.”

Beragam kerja kami di museum ini, ada yang bekerja di bagian konservasi dan preparasi. Bagian ini bertugas untuk merawat dan memperbaiki koleksi museum apabila rusak. Juga bertugas membersihkan koleksi, menentukan tata letak supaya menarik dilihat pengunjung, membuat alas ataupun label koleksi, dan lain sebagainya. Baca lebih lanjut

SIMFest 2014

Salah seorang pemusik sedang beraksi di SIMFest  Kota Sawahlunto ke-5 ini

Salah seorang pemusik sedang beraksi di SIMFest Kota Sawahlunto ke-5 ini

Sawahlunto International Musik Festival (SIMfest) telah dimulai pada Jum’at malam yang pada tahun ini mengambil tempat di Lapangan Segitiga (Lapseg) Kota Sawahlunto. Seperti tahun sebelumnya, pemusik dari dalam dan luar negeri ikut memeriahkan acara SIMFest ini.

Berlainan dengan tahun sebelumnya, SIMFest kali ini diadakan di Lapseg, tahun sebelumnya diadakan di bawah Silo, sedangkan tahun sebelumnya diadakan di Museum Goedang Ransoem. Baca lebih lanjut

Registrasi Cagar Budaya

20160203_112745

Registrar  sedang meregistrasikan koleksi warisan budaya

Sawahlunto merupakan salah satu kota di Indonesia yang selama ini giat dalam melestarikan berbagai peninggalan bersejarah yang ada. Sebagai sebuah kota warisan kolonial, Sawahlunto memiliki banyak peninggalan bersejarah yang dapat dikategorikan sebagai cagar budaya.[1]

Berbagai peninggalan bersejarah tersebut belumlah memiliki arti apabila belum diakui sebagai Cagar Budaya oleh  pemerintah kabupaten/kota. Apabila sudah diakui, maka barulah Cagar Budaya tersebut dapat dimasukkan ke dalam  Database Cagar Budaya yang terdapat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Baca lebih lanjut

Menyadari Potensi yang Ada

Identifikasi Dan Inventarisasi Sebagai Upaya Menghimpun Potensi Kebudayaan Masyarakat Nagari Dan Multikultur Sawahlunto

Oleh : Y/S-135

Hari ini, bila Anda ingin memperoleh informasi dan data yang representatatif untuk menggambarkan potensi sejarah dan kebudayaan Sawahlunto, dimana Anda bisa peroleh?

Jawabannya tentu akan beragam dengan masing-masing metode dan argumentasinya bagaimana dan dimana didapatkan. Dalam pikiran saya untuk sebuah efektifitas, kenapa tidak pada lembaga atau institusi yang mempunyai ruang lingkup dan tugas yang menangani persoalan-persoalan kebudayaan. Setidaknya disana terdapat informasi dasar atau bahkan data base kebudayaan Sawahlunto yang cukup bahkan lengkap.

Urusan kebudayaan memang adalah tanggungjawab semua elemen baik masyarakat, pemerintah, bahkan dunia swasta di Kota Sawahlunto. Kota ini sendiri, setidak-tidaknya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota Sawahlunto yang bersentuhan langsung dengan urusan kebudayaan – yang diantaranya; Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga dan Bagian Kesejahteraan Masyarakat di Setdako Sawahlunto – kesemua lembaga tersebut tentunya memiliki ruang lingkup tugas dan fungsi pokoknya masing-masing.

Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto yang kehadirannya relatif baru dalam tahun 2013 lalu, memiliki tugas dan fungsi pokok yang salah satu diantaranya; melakukan kegiatan penelitian dan pengkajian bidang sejarah  dan kebudayaan Sawahlunto. Sebagai langkah sistematis dan terstruktur tentu ada baiknya bila hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Kota Sawahlunto dapat teridentifikasi dan terinventarisasi baik berupa benda berwujud (Tangible) maupun benda tak berwujud (Intangible) seperti persoalan nilai-nilai dalam sebuah masyarakat. Baca lebih lanjut

Bangunan Cagar Budaya Sawahlunto

 

Oleh: Maiyozzi Chairi, S.Pd

Gardu Listrik disebut juga sebagai “Gudang Lampu” oleh masyarakat setempat. Pada zaman Belanda, gardu listrik ini digunakan sebagai tempat untuk menurunkan tegangan listrik dari 6 KV menjadi 220 Volt dan kemudian dialirkan menuju rumah pejabat tambang dan rumah penduduk sekitar.  (Doc Foto : KPBP)

Gardu Listrik
disebut juga sebagai “Gudang Lampu” oleh masyarakat setempat. Pada zaman Belanda, gardu listrik ini digunakan sebagai tempat untuk menurunkan tegangan listrik dari 6 KV menjadi 220 Volt dan kemudian dialirkan menuju rumah pejabat tambang dan rumah penduduk sekitar.
(Doc Foto : KPBP)

Bak Air yang berada di daerah Lubang Tembok ini merupakan suatu struktur Cagar Budaya yang dahulunya berfungsi sebagai bak penampungan air untuk mencuci batubara didaerah bantingan.  (Doc Foto : KPBP)

Bak Air yang berada di daerah Lubang Tembok ini merupakan suatu struktur Cagar Budaya yang dahulunya berfungsi sebagai bak penampungan air untuk mencuci batubara didaerah bantingan.
(Doc Foto : KPBP)

Pompa Air Rantih merupakan salah satu bangunan  yang dibangun pada zaman kolonial Belanda dan digunakan untuk mendukung sistem penambangan “Sand Filling” atau “Sistem Pasiran” dengan cara mengambil material pasir dari daerah Kayu Gadang menggunakan mesin semprot air bertekanan tinggi. Pada saat sekarang  pompa Rantih ini digunakan sebagai pompa air oleh PDAM untuk kebutuhan sebagian besar warga Sawahlunto. (Doc Foto : KPBP)

Pompa Air Rantih merupakan salah satu bangunan yang dibangun pada zaman kolonial Belanda dan digunakan untuk mendukung sistem penambangan “Sand Filling” atau “Sistem Pasiran” dengan cara mengambil material pasir dari daerah Kayu Gadang menggunakan mesin semprot air bertekanan tinggi. Pada saat sekarang pompa Rantih ini digunakan sebagai pompa air oleh PDAM untuk kebutuhan sebagian besar warga Sawahlunto.
(Doc Foto : KPBP)

Bangunan Kokes yang terletak di daerah kayu gadang  ini dibangun pada tahun 1970-an dan merupakan tempat  pengolahan batu bara menjadi bricket.  ( Doc Foto : KPBP)

Bangunan Kokes yang terletak di daerah kayu gadang ini dibangun pada tahun 1970-an dan merupakan tempat pengolahan batu bara menjadi bricket.
( Doc Foto : KPBP)

 

 

Heritage Race

Pembukaan Lomba oleh Bapak Evrinaldi, S.Si Kepala Kantor Peninggalan Bersejarah & Permuseuman

Pembukaan Lomba oleh Bapak Evrinaldi, S.Si Kepala Kantor Peninggalan Bersejarah & Permuseuman

Kalau kita ambil terjemahan harfiahnya maka akan berarti Balapan Budaya. Namun yang kami maksudkan dengan Heritage Race ialah semacam perlombaan dimana pengetahuan anak-anak perihal sejarah dan budaya negeri (dalam hal ini Kota Sawahlunto) dididik, diasah, dan diuji.

Perlombaan ini sama dengan lomba tahun sebelumnya yakni “Historical Game”. Dimana hanya peserta dan namanya saja yang berbeda. Kalau pada lomba Historical Game tahun yang lalu para pesertanya berasal dari siswa-siswi SLTA se Kota Sawahlunto maka untuk Heritage Race tahun ini pesertanya berasal dari siswa-siswi SLTP se Kota Sawahlunto.

Aturan dan teknis acara permainan ini masih sama dengan tahun sebelumnya. Bedanya ialah pada tahun sekarang setiap peserta (kelompok) diwajibkan untuk membuat satu buah karya tulis. Pembuatan karya tulis ini bertujuan untuk memancing dan melatih minat menulis dari anak-anak sekolah di Kota Sawahlunto. Sudah menjadi pengetahuan bagi kita semua bahwa anak-anak bangsa pada saat ini sangat lemah dalam kepenulisan. Baca lebih lanjut