KONSERVASI BANGUNAN BERSEJARAH

Oleh : Kurnia Febra

nol-konservasi

Petugas konservasi membersihkan lumut pada dinding powerstoom

Kota Sawahlunto, yang tumbuh karena pertambangan batubara, pada tahun 1997 mengalami penurunan produksi batu bara sehingga basis ekonomi masyarakat menjadi tidak kuat lagi. Akhirnya pemerintah kota mulai mengembangkan Kota Sawahlunto menjadi kota warisan tambang, dengan pelestarian kawasan Kota Lama sebagai salah satu program pengembangan pariwisata.

Bangunan cagar budaya sebagai saksi sejarah perjalanan Kota Arang dapat ditemui di hampir setiap sudut kawasan Kota Lama. Banyak yang masih berada dalam kondisi baik dan terus digunakan dan dipelihara dengan baik, namun banyak pula yang terlantar dan rusak. Untuk itu perlu dilakukan upaya pelestarian seperti konservasi guna menjaga bangunan cagar budaya sehingga agar tetap berdiri dan lestari.

Setiap kali hendak memulai sebuah pekerjaan konservasi bangunan, penting untuk menelusuri kembali sejarahnya. Tak hanya sejarah penggunaan, kepemilikan maupun pembangunannya, namun juga penting mempelajari sejarah teknologi pembangunannya. Karena seperti layaknya manusia, setiap bangunan bersejarah pasti memiliki identitas, karakter dan kekhasannya sendri.

Tujuan dari konservasi menurut Burra Charter (ICOMOS) adalah konservasi harus mempertahankan, memperbaiki atau memperlihatkan sebanyak mungkin jejak sejarah pada suatu obyek bersejarah. Tujuan konservasi itu sendiri adalah keamanan, pemeliharaan dan masa depan bagi benda bersejarah tersebut. Penggunaan akhir sebuah bangunan juga sangat penting karena apapun fungsi baru yang akan masuk harus sesuai dengan kebutuhan bangunan tadi.

Untuk kegiatan perbaikan struktural, perlu dititikberatkan pada upaya penanggulangan dan pencegahan terhadap segala permasalahan kerusakan struktural maupun pelapukan bahan. Baca lebih lanjut

SEBUAH LORONG DAN SEKOTAK CERITA

Oleh: Ratih Sulistiawati

Siswi SMAN 1 Sawahlunto

          Kita semua punya masa lalu yang pahit. Tapi tugas sejati kita bukan untuk meratapi atau menyesalinya. Tugas kita yang sebenarnya adalah untuk mengambil hikmah dan mendapatkan pelajaran dari semua itu. Berbicara tentang masa lalu, kali ini Saya akan membicarakan sesuatu yang ada hubungannya dengan masa lalu. Eits, jangan salah sangka dulu! Masa lalu di sini maksudnya bukan tentang percintaan kok!.

Seperti yang kita semua tau, Indonesia pernah punya masa lalu yang kelam. Masa lalu yang kejam. Berabad-abad kita dijajah oleh Belanda. Seakan itu tidak cukup, penderitaan kita ditambah lagi dengan datangnya Jepang. Yang lagi, tujuannya adalah untuk membelenggu hak kita untuk merdeka.

Tapi sekarang kita sudah bebas dari belenggu jajahan bangsa asing. Dan apa yang ditinggalkan mereka bukan hanya sekelebat cerita, atau omong-omong tentang masa lalu. Namun, datangnya bangsa asing ke Indonesia juga meninggalkan cerita-cerita penting, bangunan, benda-benda bersejarah dan mengakibatkan akulturasi dalam banyak bidang kehidupan.

Nah, kali ini Saya akan membicarakan salah satu tempat bersejarah di Kota Sawahlunto.

mbah-soero

Lubang Tambang Mbah Soero

Apa hal pertama yang terlintas dipikiran Anda ketika membaca tulisan bergaris miring di atas? Mungkinkah lorong panjang yang dipenuhi batu bara? Atau Anda malah berfikir tentang sebuah tambang milik orang Jawa? Apapun jawaban Anda, izinkan Saya memperkenalkan terlebih dahulu apa itu Lubang Tambang Mbah Soero.

Baca lebih lanjut

Komunitas Siswa Pecinta Sejarah Kota Sawahlunto

Tahun 2015 tepatnya pada tanggal 26 November, Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman telah mengadakan pertemuan dengan beberapa guru sejarah dan diikuti juga oleh beberapa siswa Sekolah Menengah Atas kelas X Kota Sawahlunto. Pertemuan tersebut memberikan wawasan mengenai arti penting memahami sejarah bagi perkembangan ke depan. Dalam acara dihadirkan Pak Karsono [1], Buk Sri [2], dan seorang novelis asal Sawahlunto yaitu Muhsin Lahajji [3], Di saat yang sama, Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto merintis dibentuknya sebuah komunitas yang mengakomodir kebutuhan siswa dalam menulis dengan tema sejarah yang ada di Sawahlunto.

IMG_0148

Saling berkenalan.

Baca lebih lanjut

Kami di Museum

 

Aktivitas Kami di Museum

Kawan-kawan dari bagian Konservasi dan Preparasi sedang melakukan perawatan terhadap salah satu koleksi.

Seringkali beberapa orang kawan bertanya kepada kami para staf museum “Sebenarnya apa saja kerja kalian di museum?” ketika mendapat pertanyaan semacam itu biasanya kami tanggapi dengan senyuman lalu menjawab “Banyak engku, macam-macam kerja kami tidak hanya memandu turis ataupun merawat koleksi dan barang-barang kuno yang dipamerkan di museum.”

Beragam kerja kami di museum ini, ada yang bekerja di bagian konservasi dan preparasi. Bagian ini bertugas untuk merawat dan memperbaiki koleksi museum apabila rusak. Juga bertugas membersihkan koleksi, menentukan tata letak supaya menarik dilihat pengunjung, membuat alas ataupun label koleksi, dan lain sebagainya. Baca lebih lanjut

SIMFest 2014

Salah seorang pemusik sedang beraksi di SIMFest  Kota Sawahlunto ke-5 ini

Salah seorang pemusik sedang beraksi di SIMFest Kota Sawahlunto ke-5 ini

Sawahlunto International Musik Festival (SIMfest) telah dimulai pada Jum’at malam yang pada tahun ini mengambil tempat di Lapangan Segitiga (Lapseg) Kota Sawahlunto. Seperti tahun sebelumnya, pemusik dari dalam dan luar negeri ikut memeriahkan acara SIMFest ini.

Berlainan dengan tahun sebelumnya, SIMFest kali ini diadakan di Lapseg, tahun sebelumnya diadakan di bawah Silo, sedangkan tahun sebelumnya diadakan di Museum Goedang Ransoem. Baca lebih lanjut

Registrasi Cagar Budaya

20160203_112745

Registrar  sedang meregistrasikan koleksi warisan budaya

Sawahlunto merupakan salah satu kota di Indonesia yang selama ini giat dalam melestarikan berbagai peninggalan bersejarah yang ada. Sebagai sebuah kota warisan kolonial, Sawahlunto memiliki banyak peninggalan bersejarah yang dapat dikategorikan sebagai cagar budaya.[1]

Berbagai peninggalan bersejarah tersebut belumlah memiliki arti apabila belum diakui sebagai Cagar Budaya oleh  pemerintah kabupaten/kota. Apabila sudah diakui, maka barulah Cagar Budaya tersebut dapat dimasukkan ke dalam  Database Cagar Budaya yang terdapat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Baca lebih lanjut